suatu hari

suatu hari kita pernah 
di antara orang-orang pergi 
dan pulang
bandara selalu gugup
hanya rekah bunga-bunga mawar
yang sepanjang kilometer terakhir
mendiami wajahmu

tak habis malam itu

dendang keroncong jatuh cinta 
di seluruh jalan-jalan kosong 
menuju pagi 
dan dingin cuaca menanam api 
pada selesai panen raya di perkebunan sawit
tapi tak membuat kikis ngarai itu
dari kata cantik belaka

sebelum usia berganti musim 
dari jam besar di taman kota paling tua
dari bolu kemojo lalu meranti
jantung hati terlampau mudah dicuri
suatu hari oleh nikmat kuah soto sinar pagi 
dan sop bening kepala ikan di pesisir 
bersamamu

yang merah muda 
dan biru semenjana
ombak-ombak bergulung
memeluk karang
melarung khayalan kecil sepenuhnya 
tentang luas berpasir 
dengan hujan cahaya itu
semoga kelak suatu hari 
tiada lelah dari setelah perayaan-perayaan 
juga lampu-lampu kembali dipadamkan

merah di beranda

di beranda  
meja kayu sepi 
secangkir kopi dan matahari tenggelam
sama-sama berhalaman lengang parkir 
menjemput sebab menunggu itu

ku ingat suatu hari
katamu; langit di kota ini 
sepenuhnya selalu repot 
berdandan merah tembaga
merah yang penuh mantra-mantra
merah yang mudah jatuh hati 
merah yang di bibir jendela berpasir 
juga pintu itu 
adalah tiket pulang 
dari seluruh tujuan pergi 

lalu dari sudut yang redup
semua nampak begitu gugup
lagu-lagu kesukaan berirama lambat 
mengalun juga sore itu
satu satu hari lalu bertemu di beranda 
kemudian merah 
dan saling berpamitan  

menuju bukit

malam ini
dari kota menuju bukit
udara dingin di perjalanan 
dicukupi derai cemara
dan hujan sesekali

pelan-pelan cahaya jatuh 
mengaku lampu
luruh ke relung jendela
belaka merenangi persimpangan 
yang lengang berbulan-bulan

wajahmu, purnama sembunyi hari ini
di mana jantungku menari-nari 
di bawah pernah padangnya
dan malam kembali bernasib gelap
perjalanan dari kota menuju bukit 
telah tertidur di kedua tanganmu