24:00

di ujung sunyi
kota ini perlahan dimatangkan Banda Neira 
malam terlampau berlampu jalan
berpohon-pohon besar 
bangunan tingkat tiga
berliku senyap seakan 
rembulan menukar jalan ringkas
dan jendela kamarmu betapa lekat 
oleh bibir hujan lebih dahulu

lihat dingin kursi itu 

tak kemana-mana
berulang-ulang menebus gelas kopi ketiga
di mana duduk yang hendak pergi
begitu mudah mencuri cokelat mata
dan mawar merah muda dari dirimu

lalu kota ini bertambah matang
berhembus pulang kabar orang-orang menunggu
pada langit gelap 
pada jantung hatimu
biar ku selami kedalamannya
dan memastikan rumahku
berdiri tegak menatap bintang
merangkai gugur cahayanya



renjana

datang juga 
sebatas malam 
berguguran bintang 
dan manis bualan memiliki ku
menyusuri margonda sekenanya 
dan tamat 

dalam pucat rembulan 
ternyata kau tak berhasil padam 
dari biru fana  
dan merah semenjana 
yang menanam taman-taman kota

o, langit terlampau pekat 
dan kehilangan api 
dari relung matamu 
betapa renjana mendiami jantungku
dan bermusim dingin 

di mana di antara banyak 
pasang muda-mudi jatuh hati
dadaku badai cemburu
dan senang menyadap luka sendiri
sepertinya engkau tahu

suatu hari

suatu hari kita pernah 
di antara orang-orang pergi 
dan pulang
bandara selalu gugup
hanya rekah bunga-bunga mawar
yang sepanjang kilometer terakhir
mendiami wajahmu

tak habis malam itu

dendang keroncong jatuh cinta 
di seluruh jalan-jalan kosong 
menuju pagi 
dan dingin cuaca menanam api 
pada selesai panen raya di perkebunan sawit
tapi tak membuat kikis ngarai itu
dari kata cantik belaka

sebelum usia berganti musim 
dari jam besar di taman kota paling tua
dari bolu kemojo lalu meranti
jantung hati terlampau mudah dicuri
suatu hari oleh nikmat kuah soto sinar pagi 
dan sop bening kepala ikan di pesisir 
bersamamu

yang merah muda 
dan biru semenjana
ombak-ombak bergulung
memeluk karang
melarung khayalan kecil sepenuhnya 
tentang luas berpasir 
dengan hujan cahaya itu
semoga kelak suatu hari 
tiada lelah dari setelah perayaan-perayaan 
juga lampu-lampu kembali dipadamkan

merah di beranda

di beranda  
meja kayu sepi 
secangkir kopi dan matahari tenggelam
sama-sama berhalaman lengang parkir 
menjemput sebab menunggu itu

ku ingat suatu hari
katamu; langit di kota ini 
sepenuhnya selalu repot 
berdandan merah tembaga
merah yang penuh mantra-mantra
merah yang mudah jatuh hati 
merah yang di bibir jendela berpasir 
juga pintu itu 
adalah tiket pulang 
dari seluruh tujuan pergi 

lalu dari sudut yang redup
semua nampak begitu gugup
lagu-lagu kesukaan berirama lambat 
mengalun juga sore itu
satu satu hari lalu bertemu di beranda 
kemudian merah 
dan saling berpamitan  

menuju bukit

malam ini
dari kota menuju bukit
udara dingin di perjalanan 
dicukupi derai cemara
dan hujan sesekali

pelan-pelan cahaya jatuh 
mengaku lampu
luruh ke relung jendela
belaka merenangi persimpangan 
yang lengang berbulan-bulan

wajahmu, purnama sembunyi hari ini
di mana jantungku menari-nari 
di bawah pernah padangnya
dan malam kembali bernasib gelap
perjalanan dari kota menuju bukit 
telah tertidur di kedua tanganmu

hampir sore bersama morissey dan siouxsie

hampir pukul empat
sore setuju gerimis
di kursi itu cahaya bohlam 
masih berhantu
belum makan 
dan turun minum

dari loncat-loncat lalat buah
aku meraih lekas lekuk pinggang suaramu 
sibuk menangi seluruh detak jam 
pulang dengan kata-katamu yang bergelas kopi anggur
ringan dan tenang
manis dan mengayun

dan waktu memilih gagah sendiri
menikmati segala jatuh dan berlinang 
sepasang mata itu 
bertandang entah mendekap nyala dadaku 
atau menatap padam punggungku 
pada suatu hari kita 
begitu paling terharu 


calle mayor

adalah mekar ungu itu 
yang menyambutmu di jalan-jalan 
musim tumbuh bunga-bunga
dan langit biru bersenandung sejuk
sejarah gedung 
dan katerdal satu persatu 
diterjemahkan dari balkon 
dari siang hari 
dari kembalinya dirimu berbaju hangat
berkacamata hitam
menjadi asing orang-orang 
yang kini bertambah singgah
menumpahkan senyum 
belaka di bangku panjang
di tepi jalan
di tengah siang yang menyenangkan
dan sepanjang melangkah itu 
di jantung jendela matamu
rindu terlalu mudah ditemukan 
dan esok tiba pagi sekali 


hari minggu hujan tak pergi ke pantai

hari minggu 
hujan tak pergi ke pantai 
cuaca begitu hangat oleh kalian 
semenjak di atas meja 
waktu kamis habis bersenda gurau 
dengan berbotol-botol teh 
dan panggilan-panggilan 
yang tak terjawab itu

tebing curam
langit terus membiru
kilometer yang matahari 
membakar apa saja 
hingga tiba angin 
merangsek rok 
dan selendang perempuan 
dalam jantungku

lalu curi mencuri mata itu
adalah mantra ombak-ombak
yang menuju sore 
yang tenang
namun asin dan asing sekali 
rasanya untukku

nostalgia

awan tebal 
hampir menangis itu
adalah kapal-kapal berlayar di atas kepala
melaju lambat 
dan banyak sekali 

di kota berjubah abu-abu kini
tak ada luput jendela dari cahaya 
kaku dan murung
kedua mata itu 
hiruk pikuk bahasa yang kikuk
dan degup jantung gugup pertama kali 

lalu hujan luruh 
mengulang kembali perjalanannya
dari bandara dan stasiun kota
musium dan gedung bioskop
kenangan seperti membangun rumah
di mana aku akan memasukinya sekali lagi

trocadero

Trocadero - Potret 1997

aku hanya terbayang
Trocadero turun dari tahun-tahun kepalanya
sebuah kota disenandungkan dengan mengalun itu 

menara besi di pinggul sungai Seine 
seakan menyulam langit tembaga 
tak lebih dari empat menit 
ternyata kau pesan juga percakapan itu 
merah jambu dahulu

perihal ingatan-ingatan musim panas yang mentari
menyeretnya kepada jauh sepasang mata pertama kali
di mana selepas lampu kota dan suara padam 
kelak akan tumbuh bunga di taman 
juga kupu-kupu itu

menandakan setiap perjumpaan 
dan perpisahan
adalah hantu-hantu 
yang ingin dipertemukan

monkey forest

jejak waktu
memahat kera
kadal ular 
lembu menetapi batu
juga senyum itu
purnama ketakutanku ketakutanmu pertama kali
hilang akar menikmati belantara

o, cahaya gugur
teduh kelokan kunjung memanggil;
"naiklah, berkisah lagi"

februari

tiba di penghujung
langit dan matamu 
bermantel bulu domba
matahari sunyi
berbuah angin 
bubarkan pasir di kuncup payung-payung

lalu laju di depan pintu
rumah makan itu 
temu pisah kita sepakat 
menelaah manis kecap pada sepiring nasi goreng
yang sebelum pukul lima sore
telah menyimpan jatuh air mata itu