mendung

pintu 
jendela 
terbuka 
terdengar menyusuri timur 
sore turun dari lantai dua   
sendu itu tiba terburu

tak ada merah gincu

tak ada ungu jalan rembulan
hanya detak jantung hati 
dipetik angin 
berguguran akan 
berbunga-bunga jambu

o, halaman parkir yang kosong

seperti merentang terang selamat datang 
seperti gelisah akan menunggu 
derap sepatumu 
bernyanyi memeluk 
rencana hujan 

engkau tak di antara

hujan berderai
menua sepanjang jatuh mata itu
di luar gedung denyut jantung berpayung udara dingin
tatkala resah berangsur merekah bunga
dan bangku-bangku merangkak demam 
di taman semakin dendam perjumpaan

o, jalan-jalan yang tersenyum
betapa temaram lampu terlampau mudah romantis
sedang engkau tak di antara gugur daun 
atau patah ranting trembesi
keinginan hampir malam ini 
luput dari kereta besi lewat itu

legian pukul sembilan pagi

selalu saja ada menarik mataku
kepada alasan menerka warna gaun pantai
atau perak matahari 
yang bersarang pundak orang-orang asing

tepat ketika kedai makan itu selesai membakar roti
menyingkirkan omelete dan berdiri dari pinggangmu
menunggu angin melengkung janur 

di muka kios-kios sepanjang jalan 
semerbak harum sesaji bersenandung lihat kebunku
seperti menabur doa-doa atas hari ini
semoga kelak berhasil merajut senja 
bersama sepasang mata itu