living rooms songs

- Olavur Arnalds

jemari itu memulai mantranya
waktu seakan pamit 
dari sengkarut jalan protokol di ibukota 
merah muda langit menancap di kepalanya
bilur ungu berduyun-duyun menuju pemakaman itu
dari denting menuju denting 
oleh piano nampak bintang-bintang 
terkenang berjatuhan 

masih tergenang riak rindu akan kekasihku 
alunan dawai cello yang kedinginan 
membangun jalan setapak 
menuju tempat peristirahatannya 
membelah hutan 
mengayuhkan anak sungai 
dari bukit dan gunung 
berkelok-kelok menanamkan air mata 
pada sengau nada nadi biola 

o, hangat pesisir 
di sanalah aku menerka 
detak arah jantung matahari itu
terbang rendah lintasi kumpulan awan tipis
dan cahaya merah muda
sepanjang jalan begitu saling menunggu
"aku pulang", lagu terakhir tersirat 
memetik cahaya begitu saja 

uluwatu

di kepalaku angin terbang rendah
pesisir bergaun biru 
luruh ketika gedung dan pohon angsana 
ingin segera ku punggungi

deru ombak, hamparan pasir 
tebing karang berguguran bunga-bunga  
bergulung-gulung 

senyummu 
memanggilku pulang

sebelum kota ini basah

dari balik jendela 
sebelum hujan berkobar itu 
langit kelabu direntangkan separuh kota

jalan-jalan menuju petang beranjak tua 
beranjak ramai dan menutup pintu
bisik udara dingin nyaring sendiri 
mendaki puncak pucuk angsana  

guguran wajahmu 
o, kenangan cahaya lampu 
tinggal dan tunggal 
jadi rembulan dalam jantungku

menuju bogor

siang itu stasiun menumpahkan orang
bau badan sengit matahari
dan rel kereta sudah membangun rencana

hujan menjadi kota
alamat tujuan kita membeli karcis
sejak dari itu isi kepalaku hanyalah sukacita panen raya

laju kereta mulai melaju
jendela berganti pemandangan
dan tidurmu seperti bersua istana kijang belaka