di meja nomor sebelas

di bawah temaram 
jalan-jalan bercabang berisi rajut angin 
dari kedai makan senang berdagang 
dan pepohonan membungkuk itu

sebentar dari lenganmu 
aku mencuri pukul delapan malam 
dan sisa merah mekar mawar hampir pudar 
larut dalam hiruk pikuk kota yang berhembus   

dan malam ini terasa kita menarik bulan cukup jauh
sisa lemon tea, lunak daging sapi
dan percakapan meja kursi 
adalah ingatan-ingatan yang tak pernah sederhana

membangun jalan lapang ke matamu

jarum jam memutar arah itu saja
memutar dingin udara dari mata bisu orang-orang kiri
menunjuk langit yang tak sependapat dengan warna baju terakhirmu 

aku dan turun hujan merenung 
duduk berseberangan dengan nasib sore mana lagi
lantas hari begitu takjub di cahaya lampu-lampu

rumah, pelukan 
dan kumpulan lama lagu-lagu 
membangun jalan lapang ke matamu 

suatu hari

siang berangkat suatu hari
dari tujuan akhir transjakarta dan kereta bogor-kota
memeram kantin dan taman berbatu  
hingga hari tak terasa matang ungu di sisimu

mataku menuju

mengenggam jauh matahari lain
yang besar berbunga ku namakan bintang itu
lalu jendela menghapus banyak nama jalan 

cahaya kota dan udara dingin 

beranjak laju semakin laju
melihat ramai hujan berpasang-pasangan
menuju sunyi yang tunggal sekali

dan teduh semilir angin 
menyederhanakan detak jantungku
tatkala yang terlukis sejenak dipejamkan
dan aku ternyata memiliki kehilangan saja 

di bawah rembulan

di bawah rembulan 
masih hijau pula daun pepohonan itu
merangkum malam penuh kecantikanmu 
yang tak putus asa mencuri dalam dadaku 

menyamarkan sepasang kuning cahaya bohlam di seberang jalan 
dahulu bercita mencari angin menuju langit 
dan membawa kita mengenali lubuk bahagia wajah sebuah kota 
yang dingin udaranya terkenang terlampau sendu

lalu setiba pukul sembilan selalu
malam merantau ke sudut alamat lebih ramai
di mana beberapa pengalamanku berguguran dalam cangkir kopi 
dan tak henti bernyanyi bersama di bawah rembulan pula