sore; menimbun sejenak suara telepon

sore di ujung jatuh bertubi-tubi
dan lelahku menuju tumbang
dari gedung apartemen, pohon angsana muda 
dan aroma menyengat ayam taliwang 
menimbun sejenak suara telepon 
yang mencari bubuk paprika sepanjang bulan

dari balik pintu 
hinggap sebuah rencana rembulan di kening telaga sunyi 
barangkali kuning wajahnya 
akan menyudahi geliat cangkir-cangkir  
tambatkan sihir kopi linthong lasuna 
meninggalkan sebuah persoalan yang masih akan berekor cicak

lalu langit bergaun merah sepanjang kemang raya
bergerimis cahaya lampu menuju pasar minggu
menuju hingga habis jalan berkelok padat itu
dan tubuh ini seperti tak habis-habisnya menulisi udara dingin 
dengan puluhan alamat ingin kusinggahi 
denganmu; jantung puisiku



kota ini memasuki mekar cahaya lampu

kota ini memasuki mekar cahaya lampu  
merah gincu, jingga jeruk mandarin 
dan putih jepun membuncah

adalah sesuka mataku katakan sekenanya ketika 

jalan-jalan sedikit penuh dan ruko dua lantai itu bersolek wajah 
tak mau kalah oleh riasan kedai makan dan kios fotocopy berpapan nama

tiba di simpang empat, jalan menuju rumah tahanan militer

pada jendela angkutan yang sengaja terbuka
pada angin semilirnya mengalun tembang kepulangan menuju pelukan yang jauh 

genap dirimu ku temukan di mana saja, berkali-kali adanya

seperti mengulang temu pisah kita yang bergerak pada dinding tiang bandara 
dan puisi ini semakin tak pernah selesai ku akhiri 

aku, senantiasakah merdu dinyanyikan angin?

hari hampir mematangkan siang
riuh burung-burung menghitung sendat riwayat angin 
di antara pepohonan angsana tua 
dan perak cahaya melumuri gedung-gedung 
kelopak jendela itu merekah tak biasa

membuka jalan beberapa ingatan tetiba mendengkur dalam kepala
matahari di terbangkan pantai, ombak-ombak bermain pasir, 
nelayan memasak harapan di laut
dan ketakutan-ketakutanku dikejar anjing 
telah rimbun menunggu matanya

mimpi-mimpi itu perlahan menyambut warna-warna menawan 
seperti pelangi atau taman bunga yang jatuh dikisahkan jemari 
aku, senantiasakah merdu dinyanyikan angin?
dinyanyikan suara-suara yang hinggap di daun-daun  
lalu berderai adalah jawaban dari gelisah yang sampai 

untukmu