dari jendela

musim hujan masih meninggi di halaman
jalan-jalan menuju desa
menuju sepi muara langit abu-abu
dan rebah dedaun rambutan itu 
aku menerkanya akan sembunyi di balik sendal anak-anak tetanga

dari jendela 
angin menghunus pisau 
semacam berniat membuat lubang besar dalam dadaku
menaruh debur ombak yang pulang ke jantung waktu 
ketika mataku pejam arang 
lalu bara merindu seketika

engkau, apakah senantiasa tamasya seperti ini?


pada suatu malam ketika berhasil meninggalkan telepon genggam

jingga pecah singkat menuruni anak tangga
waktu seakan ditinggalkan telepon genggam
dipeluk laut, sunyi menebal tebing karang Pecatu
memadamkan lampu suara-suara

dalam perjalanan 
rencana membedah manis daging ikan kakap 
peluhku kian menghisap kobar api yang memerah Alengka 
menerjemah kisah duka lara tak asing 
begitu tenang melingkari malam di jemarimu

lalu kata-kata bergairah di Jimbaran 

mengalir bunga kupu-kupu dari buku-buku
seketika ombak, pasir 
dan tiupan angin bermain perahu 

aku gempita memasuki dirimu berkali lagi 
diam-diam menyulam sajak 
dan tak pernah sanggup menyembunyikannya 
dari rembulan mata itu