membeli buah tangan

sebelum menikung bukit ke selatan 
rencana menunggu sekeping matahari luluh 
di sekujur langit laut bersolek wajah perempuan 
aku lebih dahulu mampir membelokanmu

lihatlah, rumit itu sudah kupercayakan 
takluk pada jemari matamu 
di antara sekian tumpuk karton pie susu, 
baju barong dan kacang gurih bernama-nama 

matamu adalah sungguh lidah api 
adalah mahir meniti jalan keluar 
dari toko buah tangan yang tak sanggup hanyut 
oleh mimpi-mimpi rembulan di jalan raya Tuban no.2 ini

"sudahlah, Dian lebih bersusu,
biru melulu menyadap teduh 
dan Matahari senantiasa mudah kau rindukan", bujukmu

lalu hujan luruh di perkarangan 
puitik bunga-bunga jambu 

sore jatuh di petitenget

gelisah sekilas nampak
engkau tiba di hulu gang sore ini
ketika cahaya berbaring melumut pada tembok
menyulam banyak tidur nyanyian ombak itu

lalu di hilir gapura sebelum pecah senyuman 
sebentar kupetik setangkai bunga rekah di langit
meletakan selanjutnya pada telingamu yang sedari pagi resah
mendengar alamat rintik hujan jatuh mengejar pantai

desir debur menyala binar sepasang matamu
yang jauh di dalamnya terperangkap sepasang anjing saling berkejaran
di atas pasir gemuk, nyataku ingin membungkam 
bahagiamu dengan berulang-ulang pelukan 

sanur

pagi pulang ke tempat ini
barangkali selesai berlayar
atau entah melukis gunung dari pasir di malam arang

sunyi semakin melipir
pergi ikuti lincah lari ke lubang-lubang tikus 
dan awan tipis berkumpul tenang menemukan matamu

bilur jingga pun merah muda
berenang di langit suaka kita jatuh cinta 
melarikan diri dari penat kota-kota padat

dan cahaya selanjutnya 
biar saja pelan bergerak mencari ombak
membilas meja bangku kosong kedai-kedai itu

pagi ini 
ku temukan kepingan surga terjatuh 
setelah dirimu sepertinya 


legian

dengarlah, 
sepanjang sore itu 
kaki-kaki kita berhujan pasir 
dan lepas sepucuk angin meniup ombak 
yang gugur dalam mendung sedang menunggu 

dari jauh, 
nampak langit tertanam di laut
lelah matahari tersisa sedikit di botol-botol bir 
lalu nyala lampu merambat di restoran
serentak merekah senyum bunga-bunga jepun

sore itu, 
tuanglah aku ke dalam dirimu
pun sebaliknya 
hingga sebaik-baiknya 

kepada FN

di luar rumah 
di bawah bulan bundar 
di musim sedang melayu
salahkah malam bila mencari angin dan laut?

seakan ingin menduga arah tujuan matamu
perihal harapan jauh di seberang jatuh 
untuk setiap hal yang mendesak 
dan ingin mematahkan lengkung bibirmu

dengarlah, 
berbahagialah dalam setiap semoga 
seperti kala kau menghabiskan waktu di pelukanku
dan kita habis akan kata-kata selanjutnya

cheese cake, brownies panggang dan lagu melagu itu

malam ini duduklah bersamaku 
ketika pohon hujan sedang rindang di luar rumah 
pun berdansa di lagu melagu yang tak biasa bermain itu 
sebab lidahmu kuterka barangkali 
mampu mencuri bahagia akan lidahku juga 

perihal perkara yang belum susut 
dari percakapan legit keju, salju oreo 
dan senyum caramel gadis kecil 
yang baru tumbuh gigi pada cokelat itu 
biarlah kerap menjadi yang memanggil-manggil 

hingga terbilang 
bahwa ini semua adalah nikmat lezat 
yang sangat keras kepala
sungguh keras kepala 
bukan begitu?