sore; menimbun sejenak suara telepon

sore di ujung jatuh bertubi-tubi
dan lelahku menuju tumbang
dari gedung apartemen, pohon angsana muda 
dan aroma menyengat ayam taliwang 
menimbun sejenak suara telepon 
yang mencari bubuk paprika sepanjang bulan

dari balik pintu 
hinggap sebuah rencana rembulan di kening telaga sunyi 
barangkali kuning wajahnya 
akan menyudahi geliat cangkir-cangkir  
tambatkan sihir kopi linthong lasuna 
meninggalkan sebuah persoalan yang masih akan berekor cicak

lalu langit bergaun merah sepanjang kemang raya
bergerimis cahaya lampu menuju pasar minggu
menuju hingga habis jalan berkelok padat itu
dan tubuh ini seperti tak habis-habisnya menulisi udara dingin 
dengan puluhan alamat ingin kusinggahi 
denganmu; jantung puisiku



0 komentar: