pada suatu malam ketika berhasil meninggalkan telepon genggam

jingga pecah singkat menuruni anak tangga
waktu seakan ditinggalkan telepon genggam
dipeluk laut, sunyi menebal tebing karang Pecatu
memadamkan lampu suara-suara

dalam perjalanan 
rencana membedah manis daging ikan kakap 
peluhku kian menghisap kobar api yang memerah Alengka 
menerjemah kisah duka lara tak asing 
begitu tenang melingkari malam di jemarimu

lalu kata-kata bergairah di Jimbaran 

mengalir bunga kupu-kupu dari buku-buku
seketika ombak, pasir 
dan tiupan angin bermain perahu 

aku gempita memasuki dirimu berkali lagi 
diam-diam menyulam sajak 
dan tak pernah sanggup menyembunyikannya 
dari rembulan mata itu 

2 komentar:

Ran mengatakan...

Wih, masnya anak sastra..keren...
bikin buku puisi mas..
atau bikin buku ajarin caranya bikin puisi.
:D

andri K wahab mengatakan...

@ ran: hahaha..., saya anak ibu bapak saya, kak.