dari jendela

musim hujan masih meninggi di halaman
jalan-jalan menuju desa
menuju sepi muara langit abu-abu
dan rebah dedaun rambutan itu 
aku menerkanya akan sembunyi di balik sendal anak-anak tetanga

dari jendela 
angin menghunus pisau 
semacam berniat membuat lubang besar dalam dadaku
menaruh debur ombak yang pulang ke jantung waktu 
ketika mataku pejam arang 
lalu bara merindu seketika

engkau, apakah senantiasa tamasya seperti ini?


2 komentar:

irma susanti mengatakan...

Udah lama gak mampu nulis puisi, dan baca puisi pak guru andri juga lemot banget mencernanya. sepertinya saya butuh vitamin 'puisi' nih :)))

andri K wahab mengatakan...

@irma susanti: hahaha masa sih, bisa saja ini, bu guru.