membeli buah tangan

sebelum menikung bukit ke selatan 
rencana menunggu sekeping matahari luluh 
di sekujur langit laut bersolek wajah perempuan 
aku lebih dahulu mampir membelokanmu

lihatlah, rumit itu sudah kupercayakan 
takluk pada jemari matamu 
di antara sekian tumpuk karton pie susu, 
baju barong dan kacang gurih bernama-nama 

matamu adalah sungguh lidah api 
adalah mahir meniti jalan keluar 
dari toko buah tangan yang tak sanggup hanyut 
oleh mimpi-mimpi rembulan di jalan raya Tuban no.2 ini

"sudahlah, Dian lebih bersusu,
biru melulu menyadap teduh 
dan Matahari senantiasa mudah kau rindukan", bujukmu

lalu hujan luruh di perkarangan 
puitik bunga-bunga jambu 

0 komentar: