apa kabar?

duduk pagi ini
mengunjungi aroma rambut itu
harum separuh hujan tertanam panjang umur
di antara dingin jendela
pucat langit tiada lain

o, pohon-pohon, tiang lampu 
marka jalan merajut deru mesin
meninggalkan sunyi suara semalam
engkau yang menyala 
terus menyala

apa kabar? 

selamat jalan

hampir sore itu
burung besi pulang tinggi
hangat pelukmu berturut serta
di antara kumpulan selamat jalan
punggungmu yang perlahan
melaut biru
bernyanyi ombak 
tenggelam merah senja padaku  




mendung

pintu 
jendela 
terbuka 
terdengar menyusuri timur 
sore turun dari lantai dua   
sendu itu tiba terburu

tak ada merah gincu

tak ada ungu jalan rembulan
hanya detak jantung hati 
dipetik angin 
berguguran akan 
berbunga-bunga jambu

o, halaman parkir yang kosong

seperti merentang terang selamat datang 
seperti gelisah akan menunggu 
derap sepatumu 
bernyanyi memeluk 
rencana hujan 

engkau tak di antara

hujan berderai
menua sepanjang jatuh mata itu
di luar gedung denyut jantung berpayung udara dingin
tatkala resah berangsur merekah bunga
dan bangku-bangku merangkak demam 
di taman semakin dendam perjumpaan

o, jalan-jalan yang tersenyum
betapa temaram lampu terlampau mudah romantis
sedang engkau tak di antara gugur daun 
atau patah ranting trembesi
keinginan hampir malam ini 
luput dari kereta besi lewat itu

legian pukul sembilan pagi

selalu saja ada menarik mataku
kepada alasan menerka warna gaun pantai
atau perak matahari 
yang bersarang pundak orang-orang asing

tepat ketika kedai makan itu selesai membakar roti
menyingkirkan omelete dan berdiri dari pinggangmu
menunggu angin melengkung janur 

di muka kios-kios sepanjang jalan 
semerbak harum sesaji bersenandung lihat kebunku
seperti menabur doa-doa atas hari ini
semoga kelak berhasil merajut senja 
bersama sepasang mata itu

tiba juga pergi ini

tiba juga pergi ini
malam di luar larut 
hujan menunggu gigil di sebelahmu 
peluk itu kian meramal jalan purnama

tinggi aku perlahan tinggalkan 
cahaya ibukota melepaskan senyumannya 
seperti bintang-bintang berguguran
dan terus berguguran

apakabar rindu itu?
detak jantungmu tebing karang gelisah menunggu 
di hamparan pasir biar ku utarakan 
yang tak terhingga itu

kita tak bisa apa-apa

sore duduk memesan secangkir mandheling
taman masih kurang pengunjung
hanya angin berbincang sesekali
menjatuhkan sendu lagu 
dari kantung mata kurang tidur itu

lalu langit merah muda selanjutnya
meninabobokan bunga-bunga
meredup nyala matahari 
dan apa saja

"mari pulang, 
sebelum rindu patah 
sedang kita tak bisa apa-apa", 
bisikmu ketika diam separuh kota

mengiat

ini hari jauh hujan
matahari bersinar muda 
senyumku mengejar angin dan angan
meninggalkan hingar bingar 
menuju selatan yang betapa biru di matamu

sudah dekat 
derai ombak saling mendekap 
kabar kampung halaman itu terbentang putih pasir 
tanpa rahasia, kita yang singgah 
jadi kanak-kanak kembali

  

living rooms songs

- Olavur Arnalds

jemari itu memulai mantranya
waktu seakan pamit 
dari sengkarut jalan protokol di ibukota 
merah muda langit menancap di kepalanya
bilur ungu berduyun-duyun menuju pemakaman itu
dari denting menuju denting 
oleh piano nampak bintang-bintang 
terkenang berjatuhan 

masih tergenang riak rindu akan kekasihku 
alunan dawai cello yang kedinginan 
membangun jalan setapak 
menuju tempat peristirahatannya 
membelah hutan 
mengayuhkan anak sungai 
dari bukit dan gunung 
berkelok-kelok menanamkan air mata 
pada sengau nada nadi biola 

o, hangat pesisir 
di sanalah aku menerka 
detak arah jantung matahari itu
terbang rendah lintasi kumpulan awan tipis
dan cahaya merah muda
sepanjang jalan begitu saling menunggu
"aku pulang", lagu terakhir tersirat 
memetik cahaya begitu saja 

uluwatu

di kepalaku angin terbang rendah
pesisir bergaun biru 
luruh ketika gedung dan pohon angsana 
ingin segera ku punggungi

deru ombak, hamparan pasir 
tebing karang berguguran bunga-bunga  
bergulung-gulung 

senyummu 
memanggilku pulang

sebelum kota ini basah

dari balik jendela 
sebelum hujan berkobar itu 
langit kelabu direntangkan separuh kota

jalan-jalan menuju petang beranjak tua 
beranjak ramai dan menutup pintu
bisik udara dingin nyaring sendiri 
mendaki puncak pucuk angsana  

guguran wajahmu 
o, kenangan cahaya lampu 
tinggal dan tunggal 
jadi rembulan dalam jantungku

menuju bogor

siang itu stasiun menumpahkan orang
bau badan sengit matahari
dan rel kereta sudah membangun rencana

hujan menjadi kota
alamat tujuan kita membeli karcis
sejak dari itu isi kepalaku hanyalah sukacita panen raya

laju kereta mulai melaju
jendela berganti pemandangan
dan tidurmu seperti bersua istana kijang belaka

apakah kami punya atasan lupa membaca koran?

telah turun pagi kota ini
matahari bersorak 
jalan-jalan sengkarut 
di tangan kami penuh riwayat tanggungan
barisan bahagia yang menghibur itu
sejak dari jendela juga pintu
belum lagi terbaca baik hari ini
lalu kami beranjak menuju dugaan-dugaan;
"apakah kami punya atasan lupa membaca koran?"



kopi lintong

telah disimpulkan manis 
asam buah 
dan sedikit pedas rempah

seduhan kopi ini 
memeram jauh gemerlap kota
di mana dari kepala ku tumbuh bukit dan gunung

udara yang menanak dingin
kental menjalar rumah, antena parabola
tiang listrik dan jalan berkelok mendadak pagi

lalu doa-doa berangkat ke kebun
merawat angin dan matahari
memetik jatuh hujan pertama kali 


kabar hari ini

sudah terawat nikmat pahit lidahku
dibilas tenung kopi 
ini kali toraja
enrekang pula, sayangku 

pelarian belaka sewaktu bubuk paprika sukar didapat
pada sibuk sebuah kota yang siang harinya 
menjadi nyaman bagi kebanyakan orang 
yang bergegas tinggalkan kerja
menuju percakapan beradu piring sendok
bertukar warta puji dan cekcok 

dan waktu merutuk pukul satu 
matahari menghunus pisau 
kuliti kabel listrik dan atap kedai makan 
mengiris tipis raung knalpot 
dari kepala-kepala bergemuruh itu

lalu adalah bertambah gaduh 
selepas lagu metal musisi lokal
merayakan kabar baik 
yang hendak ku kirimkan kepadamu

bahwa segala yang puisi tentang pasir putih 
deru ombak dan pantai bergaun biru 
adalah segera terhampar dalam mataku
mutiara berkilauan pada senyum itu

di meja nomor sebelas

di bawah temaram 
jalan-jalan bercabang berisi rajut angin 
dari kedai makan senang berdagang 
dan pepohonan membungkuk itu

sebentar dari lenganmu 
aku mencuri pukul delapan malam 
dan sisa merah mekar mawar hampir pudar 
larut dalam hiruk pikuk kota yang berhembus   

dan malam ini terasa kita menarik bulan cukup jauh
sisa lemon tea, lunak daging sapi
dan percakapan meja kursi 
adalah ingatan-ingatan yang tak pernah sederhana

membangun jalan lapang ke matamu

jarum jam memutar arah itu saja
memutar dingin udara dari mata bisu orang-orang kiri
menunjuk langit yang tak sependapat dengan warna baju terakhirmu 

aku dan turun hujan merenung 
duduk berseberangan dengan nasib sore mana lagi
lantas hari begitu takjub di cahaya lampu-lampu

rumah, pelukan 
dan kumpulan lama lagu-lagu 
membangun jalan lapang ke matamu 

suatu hari

siang berangkat suatu hari
dari tujuan akhir transjakarta dan kereta bogor-kota
memeram kantin dan taman berbatu  
hingga hari tak terasa matang ungu di sisimu

mataku menuju

mengenggam jauh matahari lain
yang besar berbunga ku namakan bintang itu
lalu jendela menghapus banyak nama jalan 

cahaya kota dan udara dingin 

beranjak laju semakin laju
melihat ramai hujan berpasang-pasangan
menuju sunyi yang tunggal sekali

dan teduh semilir angin 
menyederhanakan detak jantungku
tatkala yang terlukis sejenak dipejamkan
dan aku ternyata memiliki kehilangan saja 

di bawah rembulan

di bawah rembulan 
masih hijau pula daun pepohonan itu
merangkum malam penuh kecantikanmu 
yang tak putus asa mencuri dalam dadaku 

menyamarkan sepasang kuning cahaya bohlam di seberang jalan 
dahulu bercita mencari angin menuju langit 
dan membawa kita mengenali lubuk bahagia wajah sebuah kota 
yang dingin udaranya terkenang terlampau sendu

lalu setiba pukul sembilan selalu
malam merantau ke sudut alamat lebih ramai
di mana beberapa pengalamanku berguguran dalam cangkir kopi 
dan tak henti bernyanyi bersama di bawah rembulan pula



suatu waktu di ujung besar trembesi tua

suatu waktu di ujung besar trembesi tua
beberapa bintang hinggap berpijar bunga
terbentang lampu-lampu juga
melingkari deru mesin-mesin kendaraan itu

seperti sekarang tatkala rembulan berjalan pincang di atas gedung
cemas terkenang hidup dalam pelukanmu yang setenang subuh
dahulu dan waktu seperti ini dibiarkan tenggelam
jatuh kepada inti jantung senandung duka lara berusia lanjut 

dan malam kita terbenam di kelokan jalan masing-masing
rinduku atau entah apapun membawa gila musim-musim 
mengiring hujan badai kepada sibuk sebuah kota 
yang menjagamu dari ratusan keheningan yang gaduh 

"kepadamu, semoga baik-baik saja"

gerimis ini tibalah juga

gerimis ini tibalah juga 
patah tumbuh di tengah minggu 
di separuh hari menuju pulang burung-burung gereja 

"usah bertarung, 
jalan sedikit licin 
dan aku tak ingin nasibmu 
tergelincir", 

jejak kakinya berkata tatkala dari jendela terlukis rindang angsana tua 
kokoh menumbuhkan reranting hari lalu di desah napas kerumunan 
orang-orang berteduh memburu berpuluh pikiran daun-daun terjatuh

tujuan singgah yang tak mungkin dirampas kembali  

tiba-tiba tumbuh jejal seperti datang anak-anak
menawarkan sewa payung dengan raut wajah tak ingin ditolak

dan gerimis ini semakin menebal keinginan untuk bertahan 

berpikir pada relung ruang jauh sepi dan bersiasat 
menyelamatkan diriku denganmu sekali lagi

hujan di kemang

hujan berdatangan
di Kemang seakan tiba masa memasang kursi di dekat jendela
mengisi ruang dengan semua hal mustahil 

perihal luar biasa dari suatu hari yang mati 
meskipun petikan gitar melagu folk itu masih juga sepotong 
dan sudah saja mengalun sendiri 

aku ingin berdansa di lengan cahaya kuning lampu 
jadi sunyi romantis di antara dahan daun basah 
dan jerat aroma kopi yang diperjualbelikan 

lalu langit ungu mengalir tenang menawan 
menimpali seluruh pegal punggung 
dan jauh nyeri dadaku

dari deretan toko barang antik sampai kedai makanan itu
hujan pelan-pelan luruh tenggelam
seperti menunjuk hari baik datang dan pergi kembali

sore; menimbun sejenak suara telepon

sore di ujung jatuh bertubi-tubi
dan lelahku menuju tumbang
dari gedung apartemen, pohon angsana muda 
dan aroma menyengat ayam taliwang 
menimbun sejenak suara telepon 
yang mencari bubuk paprika sepanjang bulan

dari balik pintu 
hinggap sebuah rencana rembulan di kening telaga sunyi 
barangkali kuning wajahnya 
akan menyudahi geliat cangkir-cangkir  
tambatkan sihir kopi linthong lasuna 
meninggalkan sebuah persoalan yang masih akan berekor cicak

lalu langit bergaun merah sepanjang kemang raya
bergerimis cahaya lampu menuju pasar minggu
menuju hingga habis jalan berkelok padat itu
dan tubuh ini seperti tak habis-habisnya menulisi udara dingin 
dengan puluhan alamat ingin kusinggahi 
denganmu; jantung puisiku



kota ini memasuki mekar cahaya lampu

kota ini memasuki mekar cahaya lampu  
merah gincu, jingga jeruk mandarin 
dan putih jepun membuncah

adalah sesuka mataku katakan sekenanya ketika 

jalan-jalan sedikit penuh dan ruko dua lantai itu bersolek wajah 
tak mau kalah oleh riasan kedai makan dan kios fotocopy berpapan nama

tiba di simpang empat, jalan menuju rumah tahanan militer

pada jendela angkutan yang sengaja terbuka
pada angin semilirnya mengalun tembang kepulangan menuju pelukan yang jauh 

genap dirimu ku temukan di mana saja, berkali-kali adanya

seperti mengulang temu pisah kita yang bergerak pada dinding tiang bandara 
dan puisi ini semakin tak pernah selesai ku akhiri 

aku, senantiasakah merdu dinyanyikan angin?

hari hampir mematangkan siang
riuh burung-burung menghitung sendat riwayat angin 
di antara pepohonan angsana tua 
dan perak cahaya melumuri gedung-gedung 
kelopak jendela itu merekah tak biasa

membuka jalan beberapa ingatan tetiba mendengkur dalam kepala
matahari di terbangkan pantai, ombak-ombak bermain pasir, 
nelayan memasak harapan di laut
dan ketakutan-ketakutanku dikejar anjing 
telah rimbun menunggu matanya

mimpi-mimpi itu perlahan menyambut warna-warna menawan 
seperti pelangi atau taman bunga yang jatuh dikisahkan jemari 
aku, senantiasakah merdu dinyanyikan angin?
dinyanyikan suara-suara yang hinggap di daun-daun  
lalu berderai adalah jawaban dari gelisah yang sampai 

untukmu

bagaimana jika lusa

pagi tadi gerimis mendatangi kabarmu
perihal mata yang selalu tersenyum
penyimpan jebakan-jebakan 
yang terus melubangi jantung

dari jauh 
kokok ayam ngeong kucing menyeret berita-berita 
lalu hilang kembali terselimuti rimbun langit abu-abu
dan cuaca menghunus pisau di hari jumat lehermu  

lantas percik lagu begitu menikmati rindang puisi
berjatuhan angka-angka jam dinding pula 
memesan rencana secangkir arabika pada kepala 
meja, kursi dan pot bunga terbit begitu saja  

"bagaimana jika lusa, 
kita merancang duduk 
bertukar genggam 
merayakan diam saja?"

pernah

pernah 
pagi jatuh dari reranting pohon angsana
putih bulan basah di jalan-jalan  
menuju selatan kota 
aroma peluk tubuhmu 
penuh dijajakan angin suatu ketika

lalu
pulanglah 
pulanglah, seperti mudah 
segala yang terurai kini 


dari jendela

musim hujan masih meninggi di halaman
jalan-jalan menuju desa
menuju sepi muara langit abu-abu
dan rebah dedaun rambutan itu 
aku menerkanya akan sembunyi di balik sendal anak-anak tetanga

dari jendela 
angin menghunus pisau 
semacam berniat membuat lubang besar dalam dadaku
menaruh debur ombak yang pulang ke jantung waktu 
ketika mataku pejam arang 
lalu bara merindu seketika

engkau, apakah senantiasa tamasya seperti ini?


pada suatu malam ketika berhasil meninggalkan telepon genggam

jingga pecah singkat menuruni anak tangga
waktu seakan ditinggalkan telepon genggam
dipeluk laut, sunyi menebal tebing karang Pecatu
memadamkan lampu suara-suara

dalam perjalanan 
rencana membedah manis daging ikan kakap 
peluhku kian menghisap kobar api yang memerah Alengka 
menerjemah kisah duka lara tak asing 
begitu tenang melingkari malam di jemarimu

lalu kata-kata bergairah di Jimbaran 

mengalir bunga kupu-kupu dari buku-buku
seketika ombak, pasir 
dan tiupan angin bermain perahu 

aku gempita memasuki dirimu berkali lagi 
diam-diam menyulam sajak 
dan tak pernah sanggup menyembunyikannya 
dari rembulan mata itu 

membeli buah tangan

sebelum menikung bukit ke selatan 
rencana menunggu sekeping matahari luluh 
di sekujur langit laut bersolek wajah perempuan 
aku lebih dahulu mampir membelokanmu

lihatlah, rumit itu sudah kupercayakan 
takluk pada jemari matamu 
di antara sekian tumpuk karton pie susu, 
baju barong dan kacang gurih bernama-nama 

matamu adalah sungguh lidah api 
adalah mahir meniti jalan keluar 
dari toko buah tangan yang tak sanggup hanyut 
oleh mimpi-mimpi rembulan di jalan raya Tuban no.2 ini

"sudahlah, Dian lebih bersusu,
biru melulu menyadap teduh 
dan Matahari senantiasa mudah kau rindukan", bujukmu

lalu hujan luruh di perkarangan 
puitik bunga-bunga jambu 

sore jatuh di petitenget

gelisah sekilas nampak
engkau tiba di hulu gang sore ini
ketika cahaya berbaring melumut pada tembok
menyulam banyak tidur nyanyian ombak itu

lalu di hilir gapura sebelum pecah senyuman 
sebentar kupetik setangkai bunga rekah di langit
meletakan selanjutnya pada telingamu yang sedari pagi resah
mendengar alamat rintik hujan jatuh mengejar pantai

desir debur menyala binar sepasang matamu
yang jauh di dalamnya terperangkap sepasang anjing saling berkejaran
di atas pasir gemuk, nyataku ingin membungkam 
bahagiamu dengan berulang-ulang pelukan 

sanur

pagi pulang ke tempat ini
barangkali selesai berlayar
atau entah melukis gunung dari pasir di malam arang

sunyi semakin melipir
pergi ikuti lincah lari ke lubang-lubang tikus 
dan awan tipis berkumpul tenang menemukan matamu

bilur jingga pun merah muda
berenang di langit suaka kita jatuh cinta 
melarikan diri dari penat kota-kota padat

dan cahaya selanjutnya 
biar saja pelan bergerak mencari ombak
membilas meja bangku kosong kedai-kedai itu

pagi ini 
ku temukan kepingan surga terjatuh 
setelah dirimu sepertinya 


legian

dengarlah, 
sepanjang sore itu 
kaki-kaki kita berhujan pasir 
dan lepas sepucuk angin meniup ombak 
yang gugur dalam mendung sedang menunggu 

dari jauh, 
nampak langit tertanam di laut
lelah matahari tersisa sedikit di botol-botol bir 
lalu nyala lampu merambat di restoran
serentak merekah senyum bunga-bunga jepun

sore itu, 
tuanglah aku ke dalam dirimu
pun sebaliknya 
hingga sebaik-baiknya 

kepada FN

di luar rumah 
di bawah bulan bundar 
di musim sedang melayu
salahkah malam bila mencari angin dan laut?

seakan ingin menduga arah tujuan matamu
perihal harapan jauh di seberang jatuh 
untuk setiap hal yang mendesak 
dan ingin mematahkan lengkung bibirmu

dengarlah, 
berbahagialah dalam setiap semoga 
seperti kala kau menghabiskan waktu di pelukanku
dan kita habis akan kata-kata selanjutnya

cheese cake, brownies panggang dan lagu melagu itu

malam ini duduklah bersamaku 
ketika pohon hujan sedang rindang di luar rumah 
pun berdansa di lagu melagu yang tak biasa bermain itu 
sebab lidahmu kuterka barangkali 
mampu mencuri bahagia akan lidahku juga 

perihal perkara yang belum susut 
dari percakapan legit keju, salju oreo 
dan senyum caramel gadis kecil 
yang baru tumbuh gigi pada cokelat itu 
biarlah kerap menjadi yang memanggil-manggil 

hingga terbilang 
bahwa ini semua adalah nikmat lezat 
yang sangat keras kepala
sungguh keras kepala 
bukan begitu?


pulang

aku pulang dari yang tak pernah pergi
tumbuh dari merah bunga mawar, 
percakapan aroma wangi kopi
dan sebuah pohon besar yang merenung di dada itu

sementara hujan berlari kecil di tepian jalan 
tenggelamkan matahari di lekuk sayap-sayap burung 
yang lalu pada sekitarmu dan senyumku 
adalah berpuluh-puluh laron di pijar lampu itu kemudian