mari menduga

malam kental kembali tanpa ibu, sayangku
menyuguhkan ia segelas panas kopi Priangan sekali lagi
demi berjaga-jaga dari angkuh musim menyuruhku berbaju tebal
dan memadami listrik pada kipas angin negeri sendiri

aku berpikir kamar ini terlampau dekat mencintai aroma rambutmu 
sebab karenanya diam-diam luas mataku
belum juga isyaratkan selesai 
mengurai banyak rencana di langit-langit 

mari menduga setelah kutaruh kaca mata 
pada sebelum musim berganti nasib di layar televisi 
siapa hebat dari kita menyeberangi omong kosong 
hutan asap, laut jawa dan merah kematian yang digantungnya 


tiba-tiba aku ingin menyunting sajak pada jantungmu

belaka kuracik tiga jumput dedaun teh hitam
yang berbahagia tumbuh di pulau Lankadeepa
demi membangun lapang jalan ke genap pikiran itu
sebab pagi berwajah ganjil tak sudah selesai bertanya;
engkau hendak kenapa?

dalam tiap teguk sesapan yang jatuh
di antara larut tembang tua berusia lebih dari hidup ayahmu
mataku memilih nikmat, mangkir dari matahari bertubuh separuh
dan kembali mencuri malam buta untukmu
ruang segala dirimu ku luaskan menjelma kejora

dan sebelum teguk ini benar-benar berakhir
tiba-tiba aku ingin sekali menyunting sajak pada jantungmu
tentang denyut mesra yang hebat
tentang berpagut sederhana 
di pulau cahaya yang jauh