mengingat hanyut menuju bulan

sementara,
satu tahun telah

begitu panjang kata ingin berliku merdu di relungmu
pada pagi yang masih banyak menutup pintu
dan jatuh sejenak mereka kedapatan banyak suara kucing 
di jalan-jalan yang mengalir remang
membawa pulang kali pertama jantungku berdegup

dalam dirimu
betapa pandai kuingat
aku hanyut berkali-kali
menuju bulan ternyata

sakit gigi

tiba-tiba aku ingin mengemas pergi ke bandara 
menaiki alamat terbang apa saja 
sembari mencoba sedikit tenang nuasa sore nyanyian Peter Sando 
lalu manja di telapak tanganmu 

biar barangkali ku taruh nanti ngilu di situ 
di hangat merawat yang ingin ku kisahkan selanjutnya 
bertaburan berputar-putar di kanan pipiku 
seperti anak Selena yang melulu pandai mengeong di jemarimu

lantas angin menebal waktu
menambahkan usia pada angka jam dinding berkali-kali
dan sungguh belaka derita ini lebih dahsyat 
dari kisah kaum patah hati manapun yang pernah tamat di televisi 

pertemuan

siang yang seadanya
baru saja hangat di antara bahan pembicaraan itu-itu saja
jauh dari bahagia kental santan
hanya asin berujung disepakati dalam sepiring nasib 
dari tahun ke tahun 
merimbun jadi penamaan semangat di kepala

lalu sebelum rambut disiasatkan rebah klimis ke samping 
celaka kita sudah terjebak dalam sengketa saku ke saku
meriwayatkan sehat ke sakit 
merencanakan hidup ke mati 

lantas pun kita berpecahan tawa 
sedikit ribut dan kecut 
menertawakan salah yang sedang jatuh 
kepada sesal yang mahir memaafkan