yang jatuh pada sepasang mata gardu ronda

aku sedang tepat di tengah waktu 
di mana cahaya meriwayatkan jingga melulu 
dari sebagian balik jendela kamar yang tak tidur 

memetik angin yang puas kesepian 
membekas di pinggiran gelas kosong 
dan jatuh pada sepasang mata gardu ronda 

di ujung semakin larut 
sesudah percakapan mengemasi pulang ketakutan-ketakutan 
adakah yang melangkah terhuyung sepanjang lolong anjing 
bertemu setan berwajah merah menyala selihai kita?


symphony of you

ada waktu jalan-jalan di matangkan malam 
dan sunyi keluar rumah membeli gerimis 
kuning lampu 

antara dingin menikung itu 
betapa mudah menghukum jantung hati sendiri
setegas pisau hujan belaka mengiris tipis hitam langit 
yang melipat tidur di balik tirai matamu 

o, betapa jauh detak denting itu mengalun 
seperti hendak merencanakan derita di kedalamanmu 
ibukota segalaku  

tiba-tiba aku tak pandai

ada waktu redup kota ini begitu lembut 
menjaga jauh sementara pergimu 
hingga ke kursi bertubuh jati penuh duduk diriku
bercuaca letih senyum kembang mawar itu 

di dingin yang merambat karat angkutan kota 
angin pelajari jalan-jalan beralamat lenyap punggungmu 
berpikir lengkapi rekah rembulan yang tersenyum  
dengan sedikit bintang meremah cahaya 
barangkali jadi langit pukul tujuh malam di matamu 

dan ini kali malam belum terbiasa 
berguguran sunyi tempat ini salah satunya 
jauh dari rumah dari pulang yang menenangkan 
betapa ku tiba-tiba tak pandai memeluk diri sendiri