sepasang pelukan di tengah kota paling berusia

sepertinya mereka paham 
dalam dekap terasa penuh 
antara cahaya tak cukup matamu 
dua tubuh mengalir hangat jantung 
lantas mencuri nikmat lupa 
betapa sulit jalan berdebu sampai di sini 

sore melekat di jendela 
matahari meresap pori-pori dinding kamar 
dan sepotong waktu sibuk menanak rindu 
di lengan-lengan lapar merengkuh 
yang sesekali belajar menggelung lebih tekun 
sepanjang gigil merantai kemarin itu 

o, bukit meninggi 
kelok jalanan 
pun puluhan anak tangga 
biar sejenak sepasang pelukan asyik sendiri 
memilih bunyi pada jam besar 
di tengah kota paling berusia 

di bawah trembesi dan membuka dua kancing baju

siang masih membuka dua kancing baju 
menanam angin seluas melarikan diri 
ke sejumlah segar embun berbotol mineral itu 

di bawah rindang trembesi 
nasib mematuk kicau sepi burung-burung 
belaka menaruh pening di jauh atap matahari 

dan menikmati gemulai pucuk dedaun 
menari lembut diiringi gamelan jawa 
membuat denyut nadi rayakan perihal pergi pulang 
yang entah kepada siapa 

jika waktu sedemikian ini
mengapa tidak kabar saling melengkapi 
tentang baik berita yang ingin kusimpan dari suara 
yang berdenting di gelas kopi suatu nanti

di kelok jalan itu

sepanjang alamat yang tergenggam 
awan mengapung berbukit-bukit 
menampung asin hujan hari lalu 
ketika ranum sore menanam hendak dirinya sendiri 
dan merampas wajah itu 

sungguh jarak begitu angin 
membawa dekap kepada pelukanmu 
menjauh temu ke benak cerita yang tak lucu 
dan rindu menentukan nasib di separuh jendela 
sekadar bercerita kembali pada sendiri masing-masing kota

di kelok jalan itu 
tubuh waktu semakin malam
terpental redup lampu di tempat jarang berpenghuni 
lantas menjalar hangat ini mengenapi seluruh 
biar sejenak ku resapi segala semerbak wangi rambutmu itu