merayakan tiga puluh

cahaya hangat menjalar
tiba-tiba juga engkau
menepi angin kemudian
rasuk jantung gigil itu

seperti tumpah semoga 
tertampung belaka bertahun lalu 
yang menebal pulang jalan-jalan melurus 
adalah kuingat sebelum derap 
terdengar iseng berkelok-kelok sepatuku 
menuju jauh yang sedang sendiri  

di atas kepala 
rembulan menguning seluruh 
mematangkan usia dari lidah api 
dari hembusan napas begitu pagi 
dan aku masih sangat mengenal beruntung


menikmati selasa

biarkan sebentar 
sinar itu meleleh di jendela 
pelan demi pelan waktu bergoyang di usia trembesi 
menikmati angin, tenggelam berkunjung di cangkir kopi pertama 
mengajak bocah-bocah lidahku memetik manis aren 
dan mendulang senyum seperti bibir kekasihku 

di tengah melodi yang melengkung rendah 
meliuk-liuk tubuh perempuan bahkan 
pejam ini begitu asyik sendiri 
melayang-layang berkunjung dari tamasya 
ke tamasya yang lain
dan berhenti suatu saat di tangan lelaki tua 
yang semoga melegakan itu 

senja menepi di sekonyer

di sepasang mata itu 
langit matang manis sekali 
tergantung hampir jatuh 
bertunangan gelincir matahari  
merindu seluk beluk merdu nyanyi sunyi 

di teduh jingga wajah sungai 

di belukar waktu yang semakin memanjat pohon 
takjub belaka mengulang lahir deras rasa itu 
memesan duduk dan senyum ilalang panjang 
yang belum selesai benar menari 
berhari-hari di kepak sayap kupu-kupu 

apa yang tumbuh di kepalamu?

apa yang tumbuh di kepalamu?
selain hitam menjulang reranting malam 
membunuh bintang menari di laut 
mata kail tak menemu arah berenang ikan-ikan 

apa yang jatuh di benakmu?
berserak buah-buah mentah di halaman rumah 
datang sebelum musim petik mencukupkan manis 
di sekujur prasangka lentur memanjang waktu demi waktu 

apa yang patut diperdebatkan? 
selama cuaca sepakat memulangkan perihal jauh dari balik bukit 
dan pagi masih mandi dari air sumur mata itu 
setidaknya jadilah semoga yang mahir melapangkan