membelah sungai santan

setengah hari kini
hampir seluruh perut mendirikan matahari di jendela
bersama terik bernyali cahaya 
dan lapar yang merasuk ke apa saja 

mari menunjuk rencana ini itu, kataku 
di antara kisah duduk berhadap-hadap 
di antara perjalanan ujung jarum yang berpindah-pindah
membelah sungai santan dari mangkuk ke piring 
dan mengalir sementara sendok yang siap berangkat   

sementara, 
saku perlu setuju menunjuk engkau 
kita melaut pandang kepada yang tak berubah 
urutan bernama-nama di kepala 
semakin terasa jauh tenang bercerita 

 





sore

sore mengendur di kancing kemeja
renggang kepada perkara yang mendaki 
serius gedung dan jalan beralamat sibuk

sepertinya nyala lampu patut diberi listrik 

agar takut gelap itu berencana melepas kecupannya 
dan tak merusak kala meningkahi engkau 
ketika semilir mataku bermain kenang rambutmu 
di telak cuaca yang penuh baik ini 

sementara 

matahari berpulang redup 
kupasrahkan segala kesemogaan 
terbenam kembali ke dalam cangkir 
yang kelak kuteguk bersanding engkau 
memangku anak kecil berwajahkan kita 
  

manis anggur

:febdah noveliza

mendekat larut malam 
angin bersejingkat di pekarangan 
menggali sepakat melaut 
segalaku meratap manis anggur pada nasibmu  

kekasihku, 
kemarin adalah sekarang 
yang sedang tergantung di pucat dedaun 
lantas angin merenggutnya 
jatuh seluruh dari dahan bersama tabah hujan 
menari kini 

duhai, 
berbahagialah untuk sesuatu yang belum
seperti bahagiaku ketika menyusur setapak jalan 
dan menemukanmu 
sejak itu ku rayakan pulang