terjebak lagu rindu

ruangan membeku 
dadaku penuh 
gerimis patah di apapun 
jingga berguling membuka pintu 
pulang dan merawat punggung perjalanan 
adalah keadaan ketika 
aku begitu sangat ingin terlengkapi 

perlahan, 
segala nampak bernuansa 
gugur kasmaran 





 

ada jatuh hujan di luar gedung

ada jatuh hujan di luar gedung
melarikan banyak kenangan mengenang ke entah jalan
seperti perihal sepotong kecupan kemarin yang tak merampung
belaka memilih sudut memanjang di suatu sore
di mana hangat meneguk kopi kerap bertukar cangkir 
dan ruangan kembali menutup tirai bibir itu

waktu,
barangkali berupa hebat yang gelisah
menjalar dingin meniru keadaan mereka yang kini lebat di luar
menembus menusuk mengundang demam pun begitu 
hingga berkeadaan melukis ramai pasar 
aku semakin ingin menemukan 
sunyi mesra di judul apapun 







selepas petang

sudah sekian tak terhitung 
hari begitu sepakat menumpuk sesak 
dalam cuaca dada itu kesal menebal 
menjadi milik jalan-jalan yang tak menolong ketika 
senyumku hijau rindang di pepohonan 
pecah bercahaya lampu pinggiran kotamu selepas petang 

dalam keadaan serba pelik  
jarak menjadi fasih 
alasan belaka dirimu untuk memejam 
memanggil pulang erat pelukan tiba-tiba 
yang kutinggal pada pernah  
menjadi unggun api di tubuh itu