mari menduga

malam kental kembali tanpa ibu, sayangku
menyuguhkan ia segelas panas kopi Priangan sekali lagi
demi berjaga-jaga dari angkuh musim menyuruhku berbaju tebal
dan memadami listrik pada kipas angin negeri sendiri

aku berpikir kamar ini terlampau dekat mencintai aroma rambutmu 
sebab karenanya diam-diam luas mataku
belum juga isyaratkan selesai 
mengurai banyak rencana di langit-langit 

mari menduga setelah kutaruh kaca mata 
pada sebelum musim berganti nasib di layar televisi 
siapa hebat dari kita menyeberangi omong kosong 
hutan asap, laut jawa dan merah kematian yang digantungnya 


0 komentar: