di kelok jalan itu

sepanjang alamat yang tergenggam 
awan mengapung berbukit-bukit 
menampung asin hujan hari lalu 
ketika ranum sore menanam hendak dirinya sendiri 
dan merampas wajah itu 

sungguh jarak begitu angin 
membawa dekap kepada pelukanmu 
menjauh temu ke benak cerita yang tak lucu 
dan rindu menentukan nasib di separuh jendela 
sekadar bercerita kembali pada sendiri masing-masing kota

di kelok jalan itu 
tubuh waktu semakin malam
terpental redup lampu di tempat jarang berpenghuni 
lantas menjalar hangat ini mengenapi seluruh 
biar sejenak ku resapi segala semerbak wangi rambutmu itu  


2 komentar:

Cahyo Nur hafni mengatakan...

Pacaran di belokan ya mas artinnya??? hihihi belajar menafsirkan

andri K wahab mengatakan...

@ cahyo nur hafni: kurang lebih seperti itulah, mas. hehehe :-D