mari menduga

malam kental kembali tanpa ibu, sayangku
menyuguhkan ia segelas panas kopi Priangan sekali lagi
demi berjaga-jaga dari angkuh musim menyuruhku berbaju tebal
dan memadami listrik pada kipas angin negeri sendiri

aku berpikir kamar ini terlampau dekat mencintai aroma rambutmu 
sebab karenanya diam-diam luas mataku
belum juga isyaratkan selesai 
mengurai banyak rencana di langit-langit 

mari menduga setelah kutaruh kaca mata 
pada sebelum musim berganti nasib di layar televisi 
siapa hebat dari kita menyeberangi omong kosong 
hutan asap, laut jawa dan merah kematian yang digantungnya 


tiba-tiba aku ingin menyunting sajak pada jantungmu

belaka kuracik tiga jumput dedaun teh hitam
yang berbahagia tumbuh di pulau Lankadeepa
demi membangun lapang jalan ke genap pikiran itu
sebab pagi berwajah ganjil tak sudah selesai bertanya;
engkau hendak kenapa?

dalam tiap teguk sesapan yang jatuh
di antara larut tembang tua berusia lebih dari hidup ayahmu
mataku memilih nikmat, mangkir dari matahari bertubuh separuh
dan kembali mencuri malam buta untukmu
ruang segala dirimu ku luaskan menjelma kejora

dan sebelum teguk ini benar-benar berakhir
tiba-tiba aku ingin sekali menyunting sajak pada jantungmu
tentang denyut mesra yang hebat
tentang berpagut sederhana 
di pulau cahaya yang jauh 


cerita pagi

sudah sedikit terang jendela di kota ini
jalan-jalan bergegas menumpuk gelisah
dari subuh yang baru melipat sarung
dan rencana belum selesai 
telat tiba di jalan taman kemang nomor dua puluh

aku masih belajar mandiri di lampu-lampu tanpa listrik
setuju menekuni detak jantung 
sebelum meneguk susu penebal otot
dan menghitung berapa banyak sembunyi pilu diterbukanya pintu
mencari pergi demi pergi
untuk menemukan lelah pulang kembali

lalu dari atap rumah entah itu
matahari sebesar uang logam
pelan melayang mencari angin 
menjadi saksi begitu hangat selanjutnya

kemarin

apa yang akan dikerjakan sebelum esok 
denganmu bermalas-malasan di kamar sore 
sejenak berencana menanak berpergian 
yang tak buru-buru diberi judul rembulan

perihal sedekat jauh mana nanti 
biar jalan-jalan akan mengupas arahnya 
melihat merah muda jantungku dan pipimu 
kala melepas dilepas matahari sepertinya

"sampai berjumpa, 
lekas pulang"

dan waktu 
pun hampir habis lagu 
belum juga enggan melepas pagut itu 
biar saja abadi di lekuk bukit suatu pagi

mengingat hanyut menuju bulan

sementara,
satu tahun telah

begitu panjang kata ingin berliku merdu di relungmu
pada pagi yang masih banyak menutup pintu
dan jatuh sejenak mereka kedapatan banyak suara kucing 
di jalan-jalan yang mengalir remang
membawa pulang kali pertama jantungku berdegup

dalam dirimu
betapa pandai kuingat
aku hanyut berkali-kali
menuju bulan ternyata

sakit gigi

tiba-tiba aku ingin mengemas pergi ke bandara 
menaiki alamat terbang apa saja 
sembari mencoba sedikit tenang nuasa sore nyanyian Peter Sando 
lalu manja di telapak tanganmu 

biar barangkali ku taruh nanti ngilu di situ 
di hangat merawat yang ingin ku kisahkan selanjutnya 
bertaburan berputar-putar di kanan pipiku 
seperti anak Selena yang melulu pandai mengeong di jemarimu

lantas angin menebal waktu
menambahkan usia pada angka jam dinding berkali-kali
dan sungguh belaka derita ini lebih dahsyat 
dari kisah kaum patah hati manapun yang pernah tamat di televisi 

pertemuan

siang yang seadanya
baru saja hangat di antara bahan pembicaraan itu-itu saja
jauh dari bahagia kental santan
hanya asin berujung disepakati dalam sepiring nasib 
dari tahun ke tahun 
merimbun jadi penamaan semangat di kepala

lalu sebelum rambut disiasatkan rebah klimis ke samping 
celaka kita sudah terjebak dalam sengketa saku ke saku
meriwayatkan sehat ke sakit 
merencanakan hidup ke mati 

lantas pun kita berpecahan tawa 
sedikit ribut dan kecut 
menertawakan salah yang sedang jatuh 
kepada sesal yang mahir memaafkan    
   

ini waktu banyak yang ingin diperbincangkan

ini waktu banyak yang ingin diperbincangkan
ketika kipas memutar arah angin
menerbangkan dingin lagu-lagu kesepian
aku berusaha keras padam pada lampu 
dan menuju percaya lelap itu

satu-satu cahaya redup
mendekat lebam mengurung luar rumah 
dan mataku seperti entah menemukan siapa 
sedang membuka setapak pulang 
kepada patah ranting hujan di hutan kemarau  

tubuhku, 
barangkali ingin berselisih cuaca kala sekarang 
lantas menemukan pandai menebal baju 
seumpama sembunyi di belaka pelukanmu 
dan melulu tinggal di kedalamannya

ketika kau menceritakan rencana hujan jatuh selepas sore

ada rencana jatuh hujan selepas sore 
menujum riuh membasuh sembunyi musim kemarau 
dan jalan-jalan dipenuhi geliat hidup cahaya lampu 
yang tumbuh bergerak sepanjang lari-lari kecil 
mencari atap berteduh dari basah yang dingin 
mengarah menyalak pada kesepianmu

di rencana jatuh hujan selepas sore 
katamu, jadilah mustahil yang memelukmu 
yang nyenyak 
yang api  

manquer

cukup lama aku tiba 
sedang lolong anjing ingin memanjat pagar
jauhkan tidur delapan jam dari jendela kamar 
tempatku melompat rencanakan menculik bulan  

di luar jalan-jalan memeluk lagi siapa?
angin kehilangan peta 
sunyi memalamkan sendu 
dan nasib begitu ingin ujung pisau 

matamu 
kepalaku 
lenganmu 
tubuhku

entah menemu kapan lagi 
dingin subuh suatu kota 
bergetar tenggelam di jantung itu berkali-kali  

angin jatuh sederhana suatu pagi

angin jatuh 
berlarian matahari itu 
dari langit biru dan sementara kelabu suatu hari 

sederhana
kita ingin begitu sampai
sedikit terbatuk berbincang pertemuan 
sedang jingga menuang banyak ingin tentunya

pagi, sudah saja rindu menangis  
sesaat engkau pulang 
kelak ku terlelap merayakannya 

yang jatuh pada sepasang mata gardu ronda

aku sedang tepat di tengah waktu 
di mana cahaya meriwayatkan jingga melulu 
dari sebagian balik jendela kamar yang tak tidur 

memetik angin yang puas kesepian 
membekas di pinggiran gelas kosong 
dan jatuh pada sepasang mata gardu ronda 

di ujung semakin larut 
sesudah percakapan mengemasi pulang ketakutan-ketakutan 
adakah yang melangkah terhuyung sepanjang lolong anjing 
bertemu setan berwajah merah menyala selihai kita?


symphony of you

ada waktu jalan-jalan di matangkan malam 
dan sunyi keluar rumah membeli gerimis 
kuning lampu 

antara dingin menikung itu 
betapa mudah menghukum jantung hati sendiri
setegas pisau hujan belaka mengiris tipis hitam langit 
yang melipat tidur di balik tirai matamu 

o, betapa jauh detak denting itu mengalun 
seperti hendak merencanakan derita di kedalamanmu 
ibukota segalaku  

tiba-tiba aku tak pandai

ada waktu redup kota ini begitu lembut 
menjaga jauh sementara pergimu 
hingga ke kursi bertubuh jati penuh duduk diriku
bercuaca letih senyum kembang mawar itu 

di dingin yang merambat karat angkutan kota 
angin pelajari jalan-jalan beralamat lenyap punggungmu 
berpikir lengkapi rekah rembulan yang tersenyum  
dengan sedikit bintang meremah cahaya 
barangkali jadi langit pukul tujuh malam di matamu 

dan ini kali malam belum terbiasa 
berguguran sunyi tempat ini salah satunya 
jauh dari rumah dari pulang yang menenangkan 
betapa ku tiba-tiba tak pandai memeluk diri sendiri 
  

sepasang pelukan di tengah kota paling berusia

sepertinya mereka paham 
dalam dekap terasa penuh 
antara cahaya tak cukup matamu 
dua tubuh mengalir hangat jantung 
lantas mencuri nikmat lupa 
betapa sulit jalan berdebu sampai di sini 

sore melekat di jendela 
matahari meresap pori-pori dinding kamar 
dan sepotong waktu sibuk menanak rindu 
di lengan-lengan lapar merengkuh 
yang sesekali belajar menggelung lebih tekun 
sepanjang gigil merantai kemarin itu 

o, bukit meninggi 
kelok jalanan 
pun puluhan anak tangga 
biar sejenak sepasang pelukan asyik sendiri 
memilih bunyi pada jam besar 
di tengah kota paling berusia 

di bawah trembesi dan membuka dua kancing baju

siang masih membuka dua kancing baju 
menanam angin seluas melarikan diri 
ke sejumlah segar embun berbotol mineral itu 

di bawah rindang trembesi 
nasib mematuk kicau sepi burung-burung 
belaka menaruh pening di jauh atap matahari 

dan menikmati gemulai pucuk dedaun 
menari lembut diiringi gamelan jawa 
membuat denyut nadi rayakan perihal pergi pulang 
yang entah kepada siapa 

jika waktu sedemikian ini
mengapa tidak kabar saling melengkapi 
tentang baik berita yang ingin kusimpan dari suara 
yang berdenting di gelas kopi suatu nanti

di kelok jalan itu

sepanjang alamat yang tergenggam 
awan mengapung berbukit-bukit 
menampung asin hujan hari lalu 
ketika ranum sore menanam hendak dirinya sendiri 
dan merampas wajah itu 

sungguh jarak begitu angin 
membawa dekap kepada pelukanmu 
menjauh temu ke benak cerita yang tak lucu 
dan rindu menentukan nasib di separuh jendela 
sekadar bercerita kembali pada sendiri masing-masing kota

di kelok jalan itu 
tubuh waktu semakin malam
terpental redup lampu di tempat jarang berpenghuni 
lantas menjalar hangat ini mengenapi seluruh 
biar sejenak ku resapi segala semerbak wangi rambutmu itu  


merayakan tiga puluh

cahaya hangat menjalar
tiba-tiba juga engkau
menepi angin kemudian
rasuk jantung gigil itu

seperti tumpah semoga 
tertampung belaka bertahun lalu 
yang menebal pulang jalan-jalan melurus 
adalah kuingat sebelum derap 
terdengar iseng berkelok-kelok sepatuku 
menuju jauh yang sedang sendiri  

di atas kepala 
rembulan menguning seluruh 
mematangkan usia dari lidah api 
dari hembusan napas begitu pagi 
dan aku masih sangat mengenal beruntung


menikmati selasa

biarkan sebentar 
sinar itu meleleh di jendela 
pelan demi pelan waktu bergoyang di usia trembesi 
menikmati angin, tenggelam berkunjung di cangkir kopi pertama 
mengajak bocah-bocah lidahku memetik manis aren 
dan mendulang senyum seperti bibir kekasihku 

di tengah melodi yang melengkung rendah 
meliuk-liuk tubuh perempuan bahkan 
pejam ini begitu asyik sendiri 
melayang-layang berkunjung dari tamasya 
ke tamasya yang lain
dan berhenti suatu saat di tangan lelaki tua 
yang semoga melegakan itu 

senja menepi di sekonyer

di sepasang mata itu 
langit matang manis sekali 
tergantung hampir jatuh 
bertunangan gelincir matahari  
merindu seluk beluk merdu nyanyi sunyi 

di teduh jingga wajah sungai 

di belukar waktu yang semakin memanjat pohon 
takjub belaka mengulang lahir deras rasa itu 
memesan duduk dan senyum ilalang panjang 
yang belum selesai benar menari 
berhari-hari di kepak sayap kupu-kupu 

apa yang tumbuh di kepalamu?

apa yang tumbuh di kepalamu?
selain hitam menjulang reranting malam 
membunuh bintang menari di laut 
mata kail tak menemu arah berenang ikan-ikan 

apa yang jatuh di benakmu?
berserak buah-buah mentah di halaman rumah 
datang sebelum musim petik mencukupkan manis 
di sekujur prasangka lentur memanjang waktu demi waktu 

apa yang patut diperdebatkan? 
selama cuaca sepakat memulangkan perihal jauh dari balik bukit 
dan pagi masih mandi dari air sumur mata itu 
setidaknya jadilah semoga yang mahir melapangkan

  

 


      
  

membelah sungai santan

setengah hari kini
hampir seluruh perut mendirikan matahari di jendela
bersama terik bernyali cahaya 
dan lapar yang merasuk ke apa saja 

mari menunjuk rencana ini itu, kataku 
di antara kisah duduk berhadap-hadap 
di antara perjalanan ujung jarum yang berpindah-pindah
membelah sungai santan dari mangkuk ke piring 
dan mengalir sementara sendok yang siap berangkat   

sementara, 
saku perlu setuju menunjuk engkau 
kita melaut pandang kepada yang tak berubah 
urutan bernama-nama di kepala 
semakin terasa jauh tenang bercerita 

 





sore

sore mengendur di kancing kemeja
renggang kepada perkara yang mendaki 
serius gedung dan jalan beralamat sibuk

sepertinya nyala lampu patut diberi listrik 

agar takut gelap itu berencana melepas kecupannya 
dan tak merusak kala meningkahi engkau 
ketika semilir mataku bermain kenang rambutmu 
di telak cuaca yang penuh baik ini 

sementara 

matahari berpulang redup 
kupasrahkan segala kesemogaan 
terbenam kembali ke dalam cangkir 
yang kelak kuteguk bersanding engkau 
memangku anak kecil berwajahkan kita 
  

manis anggur

:febdah noveliza

mendekat larut malam 
angin bersejingkat di pekarangan 
menggali sepakat melaut 
segalaku meratap manis anggur pada nasibmu  

kekasihku, 
kemarin adalah sekarang 
yang sedang tergantung di pucat dedaun 
lantas angin merenggutnya 
jatuh seluruh dari dahan bersama tabah hujan 
menari kini 

duhai, 
berbahagialah untuk sesuatu yang belum
seperti bahagiaku ketika menyusur setapak jalan 
dan menemukanmu 
sejak itu ku rayakan pulang




terjebak lagu rindu

ruangan membeku 
dadaku penuh 
gerimis patah di apapun 
jingga berguling membuka pintu 
pulang dan merawat punggung perjalanan 
adalah keadaan ketika 
aku begitu sangat ingin terlengkapi 

perlahan, 
segala nampak bernuansa 
gugur kasmaran 





 

ada jatuh hujan di luar gedung

ada jatuh hujan di luar gedung
melarikan banyak kenangan mengenang ke entah jalan
seperti perihal sepotong kecupan kemarin yang tak merampung
belaka memilih sudut memanjang di suatu sore
di mana hangat meneguk kopi kerap bertukar cangkir 
dan ruangan kembali menutup tirai bibir itu

waktu,
barangkali berupa hebat yang gelisah
menjalar dingin meniru keadaan mereka yang kini lebat di luar
menembus menusuk mengundang demam pun begitu 
hingga berkeadaan melukis ramai pasar 
aku semakin ingin menemukan 
sunyi mesra di judul apapun 







selepas petang

sudah sekian tak terhitung 
hari begitu sepakat menumpuk sesak 
dalam cuaca dada itu kesal menebal 
menjadi milik jalan-jalan yang tak menolong ketika 
senyumku hijau rindang di pepohonan 
pecah bercahaya lampu pinggiran kotamu selepas petang 

dalam keadaan serba pelik  
jarak menjadi fasih 
alasan belaka dirimu untuk memejam 
memanggil pulang erat pelukan tiba-tiba 
yang kutinggal pada pernah  
menjadi unggun api di tubuh itu