sepasang sepatu

di manakah 
sepasang sepatuku mengantarkan ingin 
pergi sekadar membangun pegal dan pulang 
ketika harapan sebatas rapuh kuning dedaun
yang menunggu angin menjatuhkan di jalan itu 
pun kembali menumbuhkan jejak hutan yang hilang 

di matamu 
akankah cuaca tak tentu ini gemar membaca buku 
menanam hujan memelihara genangan 
menenggelamkan buruk prasangka adalah pelajaran 
sebelum waktu melabuhkan tubuhku
menyelamatkanmu dari sengkarut takut gemuruh 

perlahan 
dari jauh 
segalanya 
semakin merakit ulang pertemuan 
di unggun doa-doa 

malam ini betapa ombak melaut di dadaku

malam gugur di halaman rumah 
berserak engkau menyerbu mataku 
yang sudah bergelas-gelas kopi 

dan bernyanyilah sunyi 
seperti lembut angin yang masuk ke dalam lubang kunci 
memahat lekukmu sebelum tidurmu berbaju tubuhku 

kepada nasib baik 
semoga engkau adalah senantiasa rumah 
yang menunggu pulang demi rindu yang patuh dan mengakhiri segala 

oh, malam ini 
karenamu 
betapa ombak melaut di dadaku 


tentang sebuah rindu yang mendatangiku dengan rencananya yang belum mandi

di ruang sewaan itu
jutaan keinginan belaka penuh rencana bermalam minggu
merebah entah keberapa jatuh di sisi engkau
menjadi pasrah untuk lengan malam yang pendiam 
berdialog tanpa menemu peduli kematian nyala lampu

kita 

sepatutnya merayakan kecupan bergelas-gelas 
menyingkir dari mereka yang bergeliat di pasar 
tak pernah kaya raya akan sunyi 

dan perihal menenangkan rindu 

adalah peluh hujan di tubuh sesudah kancing baju 
sama-sama merencanakan 
menanggalkan malu menjerat kemaluan