beginilah caraku membaca nasib rindumu

menyeberanglah dengan biasa
melintasi antar kepala menyetubuhi pikiran hendak lelap itu
seperti pecah tangis bayi yang pandai berlari
menemukan redanya sendiri di puting susu ibu 

aku adalah ketagihan akibat selanjutnya
ketika kau belaka menetaskan diriku di semerbak gelisah 
yang mekar kala sunyi runtuh bertandang ke dadamu
mendekap ketiadaanku menggelung kebenaran mulut tajam peramal

oh, betapa purnama begitu cemerlang
merajut ketakutanmu mendadak cantik dingin sendirian 
dan sepanjang malam yang berbunyi paling sunyi
akankah kerinduanmu selamat dari jatuh airmata paling nyali 



sumuk

entah telah keberapa 
udara begitu dekap akan pelukan jauh dari rumah bernama engkau 
memutar kipas seketika 
mencuci sumuk berselimut itu 
sepertinya melegakan bila kancing baju 
meloloskan diri dari norma yang masih juga cemburu 

di jendela dekat pintu 
di sekujur sunyi hampir seluruh 
angin menemukan mati di antara sendal jepit dan jejak kaki hujan kemarin 
lantas menuju lari ke dalam segar iklan minuman bersoda 
apakah malam ini aku berkesempatan mendekat diri 
akan lidah angin laut yang menjilat sepoi-sepoi 

di tubuh licin 
semoga terjatuh segala bercuaca 
bergaun deras hujan yang semestinya