hari itu bandara menuliskan sajak pelukan

seperti kejadian terencana yang akan sebentar lagi
langit abu rokok kota itu luluh sewaktu rebah burung besi
banyak mengantarkan perihal tiba dan pergi dari entah bising kota
pun desa yang membangun rumah-rumah sunyi di balik sembunyi
semisal tubuh ini yang bermukim engkau sejak kemarin
berhasil mendarat dekatkan langkah untuk segera memelukmu

hari itu,
hampir malam itu
kanan kiri dinding bangunan semacam hangat secangkir teh baru terseduh
berhembus bergelung napasmu barangkali di sekitar gemetarku
dan menemukanmu di tengah hilir mudik para peristiwa kepala-kepala manusia
adalah serupa merayakan pulang kepada rumah di masa kecil

kekasih, 
aku datang
dan kupaslah rindu sebelum jumpa dibanggakan itu 
menanggung kembali kesepiannya yang begitu jurang


tiap sore hujan di kotamu turun memakai baju baru

tiap sore 
hujan di kotamu turun memakai baju baru 
bahagianya mengawasi tebal nostalgia pada tubuh
dan membungkus gemas cemas waktu  

katamu, 

di jendela alangkah baik bila wajahku tersasar jalan ke sana 
menjemput rupa gelisah yang lupa membawa payung 
merenggut rindu dari rumah yang penuh di alamatkan dadamu 

tiap sore 

di reranting patah hujan yang jatuh 
katamu, kita adalah resah pelukan yang sedang miskin
dan bertanya perihal rahasia apa saja     


pekerjaan baru

rembulan di atas penginapan sudah takut ketinggian 
dan malam mendadak kecut manakala sepasang bola mataku 
memilih nekat terjun ke dasar cangkir kopi 
resapi kota yang menggemari tidur dengan senyum perempuannya paling engkau 

di luar jalan-jalan bisu menuju bandara 
bintang-bintang berguguran memeluk pinggang pijar lampu 
dan lolong nasib begitu salju ketika basah bibirnya putuskan memutar gagang pintu  

ayolah, sesaplah sedikit lagi sampai meniris bayangan tak berselimut itu
betapa degup waktu sedang bergulung ombak menekuk dada
dan menunggu pagi berasap dari dalam tubuh hutannya 
adalah pekerjaan baru yang kelak kurayakan bersama pelukannya

rindu

langit malam telah mematikan lampu 
dan hujan sulit menemukan gagang pintu 
sementara perihal terjatuh selain dari mata itu 
waktu begitu sering merayakan usia dari dalam ruangan sepi batu 

kamu, 
aku 
dan pelukan 
adalah rindu yang menunggu menjadi tungku