angin di lubang pintu

bicaralah,
angin sekarang sudah genap di lubang pintu 
menjadi ingin menaiki punggung kuda 
menuju sabana, luas kepulangan yang hijau 
tumbuh menyebut saja dadaku 

sudahlah, 
kemasi betapa ganjil yang memelihara itu 
perihal percakapan angka-angka di wajah cermin
silakan kau bungkus bersama usia agar selepas padam listrik di kamarmu 
engkau menjadi lengkap, lelap memiliki hangat oleh segalaku  


  

adakala

adakala 
kita pernah sejoli meniru lahir banyak cuaca 
pada sekujur tubuh hijau pagi yang sembunyi ledak kejutan 
menunggu pecah semburat rencana di genggam kepala itu 
 
seperti daun gugur menapaki ranting tertinggi nasibnya terjatuh 
kenangan sudah lebih dulu terlipat jadi angin 
paham berhembus kepada pulang di segala lengang sudut jalan paling mustahil 
membunyikan panggilan selamat datang 
menancap di punggung, sunyi yang kubawa pergi ke mana saja 
 
duhai, 
aku ingin lelah 
lantas kembali pulang 
melawan sunyi bersama-sama 


sepasang mata yang akhirnya

di antara langit kulit jeruk mandarin
ranting hujan gemulai patah satu-satu
jatuh menyalakan lampu semacam puluhan kunang-kunang
kerlip itu adalah kutukan yang pulang menuju rumah
sepasang kagum di atas bukit

dan lihatlah sepanjang besar pohon-pohon angsana
betapa itu rencana telah bergeliat 
pergi tamasya ke lubuk musim-musim
yang tumbuh merawat rindang 
untuk teduh di dekap suatu ketika

apakah benar, 
surga menghafal betul jalan menuju ke mata itu?

perihal ajakan yang belum sampai

"mari pulang" 
kataku

sebelum ketakutan semakin bersekolah di tubuhmu 
pun besar meraih nasib yang gaduh 
setelah tubuh lonceng terpukul ke kanan-kiri 
oleh waktu bergoyang lenggang  

"mari datang" 
katamu 

setelah matahari mendadak jadi kanak-kanak 
terjun mandi di mangkuk kuah bakso 
dan sore itu begitu semarak 
pasrah, engkau teguk menghabisinya 

"mari pulang, mari datang"

sebelum setelah ajakan menuai hasil 
kecemasan lebih dulu merajut lebat gelap langit
dan rembulan adalah sepasang tubuh bermain petak umpet 
menemukan purnama di teduh pelukan mata masing-masing    

duhai, 
kutuklah sepi ini 
sejauh cara yang paling mustahil