catatan sesudah pejaten sebelum kemang

ada penyakit yang mengaku flu 

ada dua cangkir pelarian yang lumuri jalan nasi goreng kampung 
sebelum berhasil berbandrol metropolitan 

ada dialog yang memecah riuh paling sunyi 
menjadi luka berwarna merah muda 

ada supir taksi yang menyerahkan nasib 
kepada jalan-jalan menutup mata 

ada apa lagi sebelum datang kayu bakar 
dan mata semakin menyala dilaknat pijar lampu sekamar 

aku, 
matang setidaknya di ranting perjalanan kepala seseorang 
menyimpan selamat datang 
selamat tinggal 


ketika tidur belum tidur di tempatnya

kepada mata 
selamat pagi pukul setengah empat 
mengantuklah jika kau sempat 

ada perawan di pejam yang lelap 
ayo tangkap! 
sebelum rindu meraih palu mengarah remuk pikiran celanamu 

mengingat rumah

sudah lama, 
satu tahun entah lebihi kupunya gerimis bunga jambu di kepala 
ruangan bertutur perihal kisah-kisah yang hampir lengkap 
dengan musim-musim yang bertamasya 
barangkali menuju ingatan-ingatan belum juga siap 

di sudut itu 
ada lamunan duduk sendiri 
tertinggal belaka sebelum peristiwa 
berangkat terakhir meninggalkan pintu 

dan selanjutnya 
biar lekas itu waktu 
membangunkan kembali rumah 
untuk tekun menghitung alasan pulang 
sebelum malam menyelam di mataku 
pun sunyi berbusana dingin begitu minim 

meniadakan 
yang pernah begitu mesra