rencana-rencana di dalam mata

mataku kehilangan gelap yang dekap 
memelukmu ternyata tak semulus 
terang matahari yang jatuh 

tidur dan terbangun ialah temu pisah 
yang kubiarkan menikam jantung sendiri 
dan biar kutinggalkan semalam 
berpuluh cahaya tinggal di kota 

dalam mata itu 
rindu melambaikan rencana-rencana kelak bertemu 
perihal peristiwa yang tak pernah selesai 
perihal aku yang mencintaimu 
pelan demi dalam 
akar hingga menjulang  







pagi ini, bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?

dari balik jendela kamar 
sepasang mata belati terangsang langit biru yang seluas laut dada itu 
dan awan lebat tergantung, 
hendak kemanakah angin menasibkan perihal jatuh 
mencari sungai dan laut 

di tepian kota, 
di rerimbun suara yang belum mengenakan kepala  
setidaknya belum terlambat jika merencanakan 
membeli dahaga untuk mengisi segelas nyaring sunyi 
sama seperti dahulu 
kala lengan-lengan kerap bertemu 
dan kembali merantau untuk lupa selanjutnya 

pagi ini, 
bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?


semoga

bisakah malam tak membungkus tidur berlebihan 
meninggalkan cahaya bulat penuh menguning 
biar saja jatuh menjadi nikmat 
telur mata sapi setengah matang di meja makan kala pagi 
yang entah kapan sewaktu-waktu 
tersebut muncul dari barak-barak kepalamu 
menguat sehebat panjang mulutku 
tak habis bila usia masih menjulang belaka 
di mana aku mendoakan segala diriku menjadi beruntung 
ketika benar kau mengasah lidah 
menyebutku sebagai benar yang sungguh cukup 

kita, 
setidaknya adalah sejoli 
yang bertamasya 
menuju kota-kota cahaya