terima kasih

tubuhku 
adalah jalan dua musim mengukir nasib tentang tumbuh dan tumbang 
bingkisan yang kadang membuat lupa menggali parit kepada sungai di tengah pipi 
dan basah untuk mereka yang sedang menengadah tangan membidik tinggi langit 
sebelum susah menjenguk batok kepala: 
aku, barangkali sukar menyebut Maha di persimpangan 

duhai, 
kepada apapun mereka yang merakit kata-kata jadi pesawat dan perahu 
terima kasih, telah menyelamatkan hari yang katanya 
pantas dirayakan sekumpulan piring gelas sendok garpu 
gemerincing mengangkut kebahagiaan kelahiranku 





     




sekecup bibir dari sebuah testimoni

pada suatu kembali 
biarlah bibir masih menemukan 
tentang sepenggal kecup di cangkir yang berseteru 
menjejak dipernah cerita tanya itu 
dan wajah-wajah begitu murah 
mengenal seni melipat senyum 
sebelum rembulan berhasil memutar gagang pintu 

di ujung ruang, 

seekor kenangan merubah diri jadi kekelawar 
menemukan hari untuk mengepak sayap 
menuju manis buah di rerimbun pekat 
yang terseduh menyebut itu sebagai cangkir hangat keempat 

seperti katanya 
yang dikisahkan banyak mereka 
datang pada suatu kembali 
barangkali akan selalu memilih menepi 
dengan entah ia memesan atau tidak 
secangkir menu perjalanan menuju gayo, mandhaeling, pengalengan 
hingga menoreh bianglala di tinggi bukit-bukit toraja 

dan sekecup bibir itu 
akankah ia menjemputnya untuk disimpan kami kembali? 


*terinspirasi dari sebuah testimoni di sebuah cafe di jl. taman kemang no.20 




merah mawar di belakang tubuh

yang menyusup rerimbun tubuh senantiasa: 

adalah mereka yang ketika pagi 
menari di ujung dedaun 

adalah mereka yang ketika siang 
mengincar mengikat kepada belikat begitu kesumat 

adalah mereka yang ketika petang 
mengapa merona itu perlu digaris koin logam segera lekas 

adalah mereka yang ketika malam 
ingin dijejak hangat sepasang tanganmu, belaka menjemput memijat waktu 

adalah mereka yang seharian penuh 
menjadi alasan merah mawar di belakang tubuh 
dan tekun dirimu perihal menggores rona cinta yang sungguh aduh, 
kumau abadi merawatku