dengan kata lain

dengan kata lain 
masuklah engkau dalam terjun yang sungguh 
menggali menemukan 
besar pohon angsana, 
bis kota, pedagang kaki lima 
yang bergeliat ketika jingga 
mekar di lampu-lampu perjalanan kepalaku 

menyenangkan,  

seperti engkau menemukan pulang 
pada peta di mata yang tak pernah sekolah 
yang tak paham betapa rumit membaca alamat  
tentang rindu bermain hujan di kecipak air mata 
dan menyerah sepenuhnya kepada pintu 
yang bersembunyi pelukanku di baliknya 


doa untuk dirimu di penghujung

malam sudah melepas baju di depan pintu rumahmu 
legam tubuhnya penuh rahasia gugur 
berpamit di musim hujan yang mulai menepi manis terucap di bibir itu 

wajahmu, 
yang berada di penghujung 
adalah purnama untuk hiruk pikuk lolong doa-doa paling serigala 
setidaknya biar satu hari, 
nasib buruk melupakan brengsek tugasnya 
dan jauh mendiami batu 
berhenti memburu tak menyentuh segala kebaikanmu 

berbahagialah dirimu, 
untuk waktu ini yang kembali menjadikanmu ada 
untuk waktu ini yang kembali merawat ketabahan lidahmu 
sebelum bosanmu berhenti membahasakannya 

dan air mata 
sesungguhnya biarkan elok dalam biru 
menjadi laut 
muara teduh langit bercermin mensyukuri seluas itu 



sejenak

ruangan ini
perihal perjalanan menuju lenganmu yang begitu sukar
dan udara dingin semakin lincah mengasah taring 
untuk sejenak menancap lunak daging di gigil jauh pelukan

sementara, 
apa yang ditanam di bibir 
hanyalah menemukan basah hitam pahit secangkir yang menyenangkan 
seperti merenggang sedikit tubuh dari pergumulan yang dipelihara oleh rindu 
demi membiarkannya merambat di sekujur kecupan 
pun bermain hangat yang tumbuh di kecipak itu

duhai, 
kepada sejenak yang melayang-layang di lengang suasana 
sepertinya terlalu banyak sabar kau menebar debar 
terlalu tekun berkali-kali kau menemu resahku yang gemar
hingga terlintas lalu-lalang membungkus kedua mata  
menamakan kedekatan rupa dengan dirimu yang jelas segala