bilamana kubelajar mendoakan kecantikanmu

bilamana, kumulai ini waktu dengan menurunimu 
barangkali malam luluh merebah lembut memanjang di rambutmu 
merawat cahaya purnama memancar indah wajah pualam itu 

matamu, 
ah, sembunyi sebilah belati haus menikam jantung rupanya 
itu sebabnya kau biarkan kelopakmu terkatup selalu begitu tenang 
tertidur sebelum mawar berhasil merekah di sekujur senyuman 
yang pintar perkara meniru hangat secangkir kopi dalam genggaman 

dirimu, yang dipelihara dalam gambar itu 
berbahagialah untuk mataku 
yang senantiasa mendoakan segala bentuk kecantikanmu 


kitalah pasti pergi

kitalah pasti pergi 
menjadi pulang dalam segala ingatan-ingatan di kepala sendiri  
menjangkit sesak meremas sekujur tabah di dada paling terkoyak 

kitalah pasti pergi 
beranjak dari sepasang mata rembulan jingga yang berlayar tenang di sudut sunyi
yang entah kapan mau selesai melepas batang-batang hujan di wajah telaga 
melukis segala musim dengan pendar lambaian tangan: sampai berjumpa  

de, kitalah pasti pergi 
saling benar meninggalkan dalam sebaik-baiknya kenangan tak sanggup mati
di mana kekurangajaran rindu pastinya kelak mengetuk pintu yang berulangkali  





banjir hujan di ibu kota

ada yang sedang bersenang jatuh di musim ini 
berlebih deras dari tangisan kehilangan ibu 
membuat muntah mulut-mulut kali 
menambah duka menggigil itu 

oh, ibu kota 
meski masam terkadang busuk aroma yang berdiam di ketiakmu 
sungguh betapa mengiurkan lekuk rumit tubuhmu 
hingga tak pernah habis menyeret liur hujan yang semakin banjir diramai televisi itu 
semakin ramah dilumat janji gubernur sekarang pun kemarin dulu 
yang tak pernah selesai, menyelesaikan itu