sepasang mata yang akhirnya

di antara langit kulit jeruk mandarin
ranting hujan gemulai patah satu-satu
jatuh menyalakan lampu semacam puluhan kunang-kunang
kerlip itu adalah kutukan yang pulang menuju rumah
sepasang kagum di atas bukit

dan lihatlah sepanjang besar pohon-pohon angsana
betapa itu rencana telah bergeliat 
pergi tamasya ke lubuk musim-musim
yang tumbuh merawat rindang 
untuk teduh di dekap suatu ketika

apakah benar, 
surga menghafal betul jalan menuju ke mata itu?

3 komentar:

velizalizi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
IrmaSenja mengatakan...

nice poem pak guru,...hemmm jalan manakah yg hendak dituju ?

andri K wahab mengatakan...

@velizalizi: haha, dihapus?

@Irma Senja: trm ksh ibu guru, jln menuju ke mata hazel, barangkali.