pagi ini, bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?

dari balik jendela kamar 
sepasang mata belati terangsang langit biru yang seluas laut dada itu 
dan awan lebat tergantung, 
hendak kemanakah angin menasibkan perihal jatuh 
mencari sungai dan laut 

di tepian kota, 
di rerimbun suara yang belum mengenakan kepala  
setidaknya belum terlambat jika merencanakan 
membeli dahaga untuk mengisi segelas nyaring sunyi 
sama seperti dahulu 
kala lengan-lengan kerap bertemu 
dan kembali merantau untuk lupa selanjutnya 

pagi ini, 
bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?


2 komentar:

BLACKBOX mengatakan...

Bang... puisi ini menggetarkanku, sungguh.

andri K wahab mengatakan...

@ Blackbox: weehhh...getarannya berapa skala, bro? :-D