sekecup bibir dari sebuah testimoni

pada suatu kembali 
biarlah bibir masih menemukan 
tentang sepenggal kecup di cangkir yang berseteru 
menjejak dipernah cerita tanya itu 
dan wajah-wajah begitu murah 
mengenal seni melipat senyum 
sebelum rembulan berhasil memutar gagang pintu 

di ujung ruang, 

seekor kenangan merubah diri jadi kekelawar 
menemukan hari untuk mengepak sayap 
menuju manis buah di rerimbun pekat 
yang terseduh menyebut itu sebagai cangkir hangat keempat 

seperti katanya 
yang dikisahkan banyak mereka 
datang pada suatu kembali 
barangkali akan selalu memilih menepi 
dengan entah ia memesan atau tidak 
secangkir menu perjalanan menuju gayo, mandhaeling, pengalengan 
hingga menoreh bianglala di tinggi bukit-bukit toraja 

dan sekecup bibir itu 
akankah ia menjemputnya untuk disimpan kami kembali? 


*terinspirasi dari sebuah testimoni di sebuah cafe di jl. taman kemang no.20 




0 komentar: