ada yang berhitung di pekarangan

ada yang berhitung di pekarangan 
perihal teduh dedaun turun satu-persatu 
menguning pelajari jalan setapak 
yang barangkali hangat berbicara 
kala memasuki musim hujan jemarimu 
dan merentang pelukan di februari 

biar kupetik nanti aroma rambutmu 
berulang pulang berulang datang 
merambati perlahan di tengah lagu autumn leaves 
paolo nutini menjeda suaranya  
barangkali kedua mata kita 
saling tantang memandang 
saling tenang menenggelamkan

rindu, adalah apakah? 
dan pecahlah gembira yang begitu niat 
selepas mendapatimu maka aku 
sempurna dengan cara paling sederhana 


di akhir pekan dan permintaan begitu pagi

sabtu, 
yang pagi 
yang hujan 
adalah betapa ingin 
menanam peluk cium 
ke alamat pulang itu 

di bawah rinai 
dipersembahkanlah mengalir genang 
dirimu kurindu tak tenang 
merajalela renangi nyeri 
tak habis-habis 

udara membunuh sunyi seluruh 
tubuhku mengetuk itu 
di perjamuan kelak berhadap-hadapan 
permintaan sebelum habis nyala waktu 
betapa niat bahagiaku membahagiakanmu   

 

di hari yang semakin terlahir

di hari yang semakin terlahir 
waktu tekun mematangkan maut 
kelak mengajak bersama 
menuang takut di teras mata 
seketika langit membeli kesedihannya 
yang asin digarami laut 

bicara perihal tak mungkin dahulu 
perkara mengerti betapa ingin alasan berdegup 
mendirikan kembali runtuh jembatan kayu
yang membawa keringat nama-nama cuaca 
dari nyeri punggung yang ingin bergaris hidup 
terpelihara rukun oleh remas tangan itu   

di hari yang semakin terlahir 
pada kebanyakan ingin 
apalah arti mengalir nadi sekujur tubuh 
jika dimaksud adalah tak sempat bermusim 
dan mukim bagi peluk ketika sunyi begitu dingin 
menumpuk rindu sebagai kekayaannya 


sepasang sepatu

di manakah 
sepasang sepatuku mengantarkan ingin 
pergi sekadar membangun pegal dan pulang 
ketika harapan sebatas rapuh kuning dedaun
yang menunggu angin menjatuhkan di jalan itu 
pun kembali menumbuhkan jejak hutan yang hilang 

di matamu 
akankah cuaca tak tentu ini gemar membaca buku 
menanam hujan memelihara genangan 
menenggelamkan buruk prasangka adalah pelajaran 
sebelum waktu melabuhkan tubuhku
menyelamatkanmu dari sengkarut takut gemuruh 

perlahan 
dari jauh 
segalanya 
semakin merakit ulang pertemuan 
di unggun doa-doa 

malam ini betapa ombak melaut di dadaku

malam gugur di halaman rumah 
berserak engkau menyerbu mataku 
yang sudah bergelas-gelas kopi 

dan bernyanyilah sunyi 
seperti lembut angin yang masuk ke dalam lubang kunci 
memahat lekukmu sebelum tidurmu berbaju tubuhku 

kepada nasib baik 
semoga engkau adalah senantiasa rumah 
yang menunggu pulang demi rindu yang patuh dan mengakhiri segala 

oh, malam ini 
karenamu 
betapa ombak melaut di dadaku 


tentang sebuah rindu yang mendatangiku dengan rencananya yang belum mandi

di ruang sewaan itu
jutaan keinginan belaka penuh rencana bermalam minggu
merebah entah keberapa jatuh di sisi engkau
menjadi pasrah untuk lengan malam yang pendiam 
berdialog tanpa menemu peduli kematian nyala lampu

kita 

sepatutnya merayakan kecupan bergelas-gelas 
menyingkir dari mereka yang bergeliat di pasar 
tak pernah kaya raya akan sunyi 

dan perihal menenangkan rindu 

adalah peluh hujan di tubuh sesudah kancing baju 
sama-sama merencanakan 
menanggalkan malu menjerat kemaluan






beginilah caraku membaca nasib rindumu

menyeberanglah dengan biasa
melintasi antar kepala menyetubuhi pikiran hendak lelap itu
seperti pecah tangis bayi yang pandai berlari
menemukan redanya sendiri di puting susu ibu 

aku adalah ketagihan akibat selanjutnya
ketika kau belaka menetaskan diriku di semerbak gelisah 
yang mekar kala sunyi runtuh bertandang ke dadamu
mendekap ketiadaanku menggelung kebenaran mulut tajam peramal

oh, betapa purnama begitu cemerlang
merajut ketakutanmu mendadak cantik dingin sendirian 
dan sepanjang malam yang berbunyi paling sunyi
akankah kerinduanmu selamat dari jatuh airmata paling nyali 



sumuk

entah telah keberapa 
udara begitu dekap akan pelukan jauh dari rumah bernama engkau 
memutar kipas seketika 
mencuci sumuk berselimut itu 
sepertinya melegakan bila kancing baju 
meloloskan diri dari norma yang masih juga cemburu 

di jendela dekat pintu 
di sekujur sunyi hampir seluruh 
angin menemukan mati di antara sendal jepit dan jejak kaki hujan kemarin 
lantas menuju lari ke dalam segar iklan minuman bersoda 
apakah malam ini aku berkesempatan mendekat diri 
akan lidah angin laut yang menjilat sepoi-sepoi 

di tubuh licin 
semoga terjatuh segala bercuaca 
bergaun deras hujan yang semestinya 


hari itu bandara menuliskan sajak pelukan

seperti kejadian terencana yang akan sebentar lagi
langit abu rokok kota itu luluh sewaktu rebah burung besi
banyak mengantarkan perihal tiba dan pergi dari entah bising kota
pun desa yang membangun rumah-rumah sunyi di balik sembunyi
semisal tubuh ini yang bermukim engkau sejak kemarin
berhasil mendarat dekatkan langkah untuk segera memelukmu

hari itu,
hampir malam itu
kanan kiri dinding bangunan semacam hangat secangkir teh baru terseduh
berhembus bergelung napasmu barangkali di sekitar gemetarku
dan menemukanmu di tengah hilir mudik para peristiwa kepala-kepala manusia
adalah serupa merayakan pulang kepada rumah di masa kecil

kekasih, 
aku datang
dan kupaslah rindu sebelum jumpa dibanggakan itu 
menanggung kembali kesepiannya yang begitu jurang


tiap sore hujan di kotamu turun memakai baju baru

tiap sore 
hujan di kotamu turun memakai baju baru 
bahagianya mengawasi tebal nostalgia pada tubuh
dan membungkus gemas cemas waktu  

katamu, 

di jendela alangkah baik bila wajahku tersasar jalan ke sana 
menjemput rupa gelisah yang lupa membawa payung 
merenggut rindu dari rumah yang penuh di alamatkan dadamu 

tiap sore 

di reranting patah hujan yang jatuh 
katamu, kita adalah resah pelukan yang sedang miskin
dan bertanya perihal rahasia apa saja     


pekerjaan baru

rembulan di atas penginapan sudah takut ketinggian 
dan malam mendadak kecut manakala sepasang bola mataku 
memilih nekat terjun ke dasar cangkir kopi 
resapi kota yang menggemari tidur dengan senyum perempuannya paling engkau 

di luar jalan-jalan bisu menuju bandara 
bintang-bintang berguguran memeluk pinggang pijar lampu 
dan lolong nasib begitu salju ketika basah bibirnya putuskan memutar gagang pintu  

ayolah, sesaplah sedikit lagi sampai meniris bayangan tak berselimut itu
betapa degup waktu sedang bergulung ombak menekuk dada
dan menunggu pagi berasap dari dalam tubuh hutannya 
adalah pekerjaan baru yang kelak kurayakan bersama pelukannya

rindu

langit malam telah mematikan lampu 
dan hujan sulit menemukan gagang pintu 
sementara perihal terjatuh selain dari mata itu 
waktu begitu sering merayakan usia dari dalam ruangan sepi batu 

kamu, 
aku 
dan pelukan 
adalah rindu yang menunggu menjadi tungku

hujan sore

setiap sore, hujan 
setiap hujan, sore 
hujan dan sore selalu siap 
hujan-hujanan setiap sore

hujan menemukan sore 
sore ditemukan hujan
mereka sejoli yang menemukan 
ditemukan kala sore hujan 

hujan sore pergi kesorean 
sore hujan main kehujanan 
sebelum kesorean semakin pergi main kehujanan 
cobalah kau bubuh makna turun di antara hujan dan sore 

mana tahu kita meniru nasib serasi keduanya







cerita pilu tentang hujan yang mati karena mengejar bangkai di selokan

sudah dua hari hujan turun deras 
ketika sore di selokan ada bangkai 
yang belajar berenang direnangkan mulut itu

selokan itu masih menggunakan deras
pada arus berisi hujan bangkai
berisi hanyut yang megap-megap

hujan ngawur mengejar bangkai yang kabur
dari selokan sampai ke sungai laut langit
kembali jadi hujan dan tak selesai akan itu

lantas hujan mati 
ketika bangkai keluar dari selokan mencari baunya
yang ditinggal hidup pada sore dua hari di mulut itu

setidaknya kita adalah kemungkinan-kemungkinan

pagi ini 
setidaknya kita, 

adalah 
tubuh yang menganut gemetar 
menanak matang resah keinginan 

adalah 
tekun bubu ikan yang merendam sabar di deras sungai 
menemukan senang berkolam-kolam  

adalah 
riuh cericit burung melagu rindu paling timur 
pada reranting angin mendirikan pulang

adalah 
kejutan yang esok menaiki pesawat terbang 
mengendurkan sunyi kecup kecap di jeda biru percakapan 

adalah 
kepayahan yang tak berhenti sebelum merayakan pergi 
bersimpang ditelanjangkan kenangan 

  

angin di lubang pintu

bicaralah,
angin sekarang sudah genap di lubang pintu 
menjadi ingin menaiki punggung kuda 
menuju sabana, luas kepulangan yang hijau 
tumbuh menyebut saja dadaku 

sudahlah, 
kemasi betapa ganjil yang memelihara itu 
perihal percakapan angka-angka di wajah cermin
silakan kau bungkus bersama usia agar selepas padam listrik di kamarmu 
engkau menjadi lengkap, lelap memiliki hangat oleh segalaku  


  

adakala

adakala 
kita pernah sejoli meniru lahir banyak cuaca 
pada sekujur tubuh hijau pagi yang sembunyi ledak kejutan 
menunggu pecah semburat rencana di genggam kepala itu 
 
seperti daun gugur menapaki ranting tertinggi nasibnya terjatuh 
kenangan sudah lebih dulu terlipat jadi angin 
paham berhembus kepada pulang di segala lengang sudut jalan paling mustahil 
membunyikan panggilan selamat datang 
menancap di punggung, sunyi yang kubawa pergi ke mana saja 
 
duhai, 
aku ingin lelah 
lantas kembali pulang 
melawan sunyi bersama-sama 


sepasang mata yang akhirnya

di antara langit kulit jeruk mandarin
ranting hujan gemulai patah satu-satu
jatuh menyalakan lampu semacam puluhan kunang-kunang
kerlip itu adalah kutukan yang pulang menuju rumah
sepasang kagum di atas bukit

dan lihatlah sepanjang besar pohon-pohon angsana
betapa itu rencana telah bergeliat 
pergi tamasya ke lubuk musim-musim
yang tumbuh merawat rindang 
untuk teduh di dekap suatu ketika

apakah benar, 
surga menghafal betul jalan menuju ke mata itu?

perihal ajakan yang belum sampai

"mari pulang" 
kataku

sebelum ketakutan semakin bersekolah di tubuhmu 
pun besar meraih nasib yang gaduh 
setelah tubuh lonceng terpukul ke kanan-kiri 
oleh waktu bergoyang lenggang  

"mari datang" 
katamu 

setelah matahari mendadak jadi kanak-kanak 
terjun mandi di mangkuk kuah bakso 
dan sore itu begitu semarak 
pasrah, engkau teguk menghabisinya 

"mari pulang, mari datang"

sebelum setelah ajakan menuai hasil 
kecemasan lebih dulu merajut lebat gelap langit
dan rembulan adalah sepasang tubuh bermain petak umpet 
menemukan purnama di teduh pelukan mata masing-masing    

duhai, 
kutuklah sepi ini 
sejauh cara yang paling mustahil

 

catatan sesudah pejaten sebelum kemang

ada penyakit yang mengaku flu 

ada dua cangkir pelarian yang lumuri jalan nasi goreng kampung 
sebelum berhasil berbandrol metropolitan 

ada dialog yang memecah riuh paling sunyi 
menjadi luka berwarna merah muda 

ada supir taksi yang menyerahkan nasib 
kepada jalan-jalan menutup mata 

ada apa lagi sebelum datang kayu bakar 
dan mata semakin menyala dilaknat pijar lampu sekamar 

aku, 
matang setidaknya di ranting perjalanan kepala seseorang 
menyimpan selamat datang 
selamat tinggal 


ketika tidur belum tidur di tempatnya

kepada mata 
selamat pagi pukul setengah empat 
mengantuklah jika kau sempat 

ada perawan di pejam yang lelap 
ayo tangkap! 
sebelum rindu meraih palu mengarah remuk pikiran celanamu 

mengingat rumah

sudah lama, 
satu tahun entah lebihi kupunya gerimis bunga jambu di kepala 
ruangan bertutur perihal kisah-kisah yang hampir lengkap 
dengan musim-musim yang bertamasya 
barangkali menuju ingatan-ingatan belum juga siap 

di sudut itu 
ada lamunan duduk sendiri 
tertinggal belaka sebelum peristiwa 
berangkat terakhir meninggalkan pintu 

dan selanjutnya 
biar lekas itu waktu 
membangunkan kembali rumah 
untuk tekun menghitung alasan pulang 
sebelum malam menyelam di mataku 
pun sunyi berbusana dingin begitu minim 

meniadakan 
yang pernah begitu mesra 




sesudah maghrib di kepala lelaki itu

;joko pinurbo 

sudah maghrib 
senja seadanya berkemas pulang meninggalkan mata lelaki itu 
memasang separuh rembulan ketika nyalak di dada 
begitu seru semakin asu mengaku rindu 
kepada celana ayahnya yang barangkali iseng sendiri 
di utas temali jemuran yang entah  

di kepala lelaki itu 
hujan semakin menarik untuk dijatuhkan dari mana di mana saja 
hingga menemu anak-anak sunyi bermain jauh dari rumah 
di dekat sungai yang mengalir air mata ibu 
ia terka penuh asin tabah belaka  

sesudah maghrib 
di kepala lelaki itu 
konon mencintai keduanya 
kecuali Tuhan, yang kau coba 
tak pernah menang duel ternyata



hujan memulangkan engkau

hujan turun 
tumpah menghukum ketika lengan tak melingkar 
menjadi ular apa-apa di tubuh waktu 

hujan, 

isyarat tubuh 
memulangkan segala pelukan 

tiba-tiba, 
engkau berlompatan dari tempurung pikiran 

  

rencana-rencana di dalam mata

mataku kehilangan gelap yang dekap 
memelukmu ternyata tak semulus 
terang matahari yang jatuh 

tidur dan terbangun ialah temu pisah 
yang kubiarkan menikam jantung sendiri 
dan biar kutinggalkan semalam 
berpuluh cahaya tinggal di kota 

dalam mata itu 
rindu melambaikan rencana-rencana kelak bertemu 
perihal peristiwa yang tak pernah selesai 
perihal aku yang mencintaimu 
pelan demi dalam 
akar hingga menjulang  







pagi ini, bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?

dari balik jendela kamar 
sepasang mata belati terangsang langit biru yang seluas laut dada itu 
dan awan lebat tergantung, 
hendak kemanakah angin menasibkan perihal jatuh 
mencari sungai dan laut 

di tepian kota, 
di rerimbun suara yang belum mengenakan kepala  
setidaknya belum terlambat jika merencanakan 
membeli dahaga untuk mengisi segelas nyaring sunyi 
sama seperti dahulu 
kala lengan-lengan kerap bertemu 
dan kembali merantau untuk lupa selanjutnya 

pagi ini, 
bagaimana jika engkau mengerti rindu yang begini saja?


semoga

bisakah malam tak membungkus tidur berlebihan 
meninggalkan cahaya bulat penuh menguning 
biar saja jatuh menjadi nikmat 
telur mata sapi setengah matang di meja makan kala pagi 
yang entah kapan sewaktu-waktu 
tersebut muncul dari barak-barak kepalamu 
menguat sehebat panjang mulutku 
tak habis bila usia masih menjulang belaka 
di mana aku mendoakan segala diriku menjadi beruntung 
ketika benar kau mengasah lidah 
menyebutku sebagai benar yang sungguh cukup 

kita, 
setidaknya adalah sejoli 
yang bertamasya 
menuju kota-kota cahaya 


terima kasih

tubuhku 
adalah jalan dua musim mengukir nasib tentang tumbuh dan tumbang 
bingkisan yang kadang membuat lupa menggali parit kepada sungai di tengah pipi 
dan basah untuk mereka yang sedang menengadah tangan membidik tinggi langit 
sebelum susah menjenguk batok kepala: 
aku, barangkali sukar menyebut Maha di persimpangan 

duhai, 
kepada apapun mereka yang merakit kata-kata jadi pesawat dan perahu 
terima kasih, telah menyelamatkan hari yang katanya 
pantas dirayakan sekumpulan piring gelas sendok garpu 
gemerincing mengangkut kebahagiaan kelahiranku 





     




sekecup bibir dari sebuah testimoni

pada suatu kembali 
biarlah bibir masih menemukan 
tentang sepenggal kecup di cangkir yang berseteru 
menjejak dipernah cerita tanya itu 
dan wajah-wajah begitu murah 
mengenal seni melipat senyum 
sebelum rembulan berhasil memutar gagang pintu 

di ujung ruang, 

seekor kenangan merubah diri jadi kekelawar 
menemukan hari untuk mengepak sayap 
menuju manis buah di rerimbun pekat 
yang terseduh menyebut itu sebagai cangkir hangat keempat 

seperti katanya 
yang dikisahkan banyak mereka 
datang pada suatu kembali 
barangkali akan selalu memilih menepi 
dengan entah ia memesan atau tidak 
secangkir menu perjalanan menuju gayo, mandhaeling, pengalengan 
hingga menoreh bianglala di tinggi bukit-bukit toraja 

dan sekecup bibir itu 
akankah ia menjemputnya untuk disimpan kami kembali? 


*terinspirasi dari sebuah testimoni di sebuah cafe di jl. taman kemang no.20 




merah mawar di belakang tubuh

yang menyusup rerimbun tubuh senantiasa: 

adalah mereka yang ketika pagi 
menari di ujung dedaun 

adalah mereka yang ketika siang 
mengincar mengikat kepada belikat begitu kesumat 

adalah mereka yang ketika petang 
mengapa merona itu perlu digaris koin logam segera lekas 

adalah mereka yang ketika malam 
ingin dijejak hangat sepasang tanganmu, belaka menjemput memijat waktu 

adalah mereka yang seharian penuh 
menjadi alasan merah mawar di belakang tubuh 
dan tekun dirimu perihal menggores rona cinta yang sungguh aduh, 
kumau abadi merawatku   


dengan kata lain

dengan kata lain 
masuklah engkau dalam terjun yang sungguh 
menggali menemukan 
besar pohon angsana, 
bis kota, pedagang kaki lima 
yang bergeliat ketika jingga 
mekar di lampu-lampu perjalanan kepalaku 

menyenangkan,  

seperti engkau menemukan pulang 
pada peta di mata yang tak pernah sekolah 
yang tak paham betapa rumit membaca alamat  
tentang rindu bermain hujan di kecipak air mata 
dan menyerah sepenuhnya kepada pintu 
yang bersembunyi pelukanku di baliknya 


doa untuk dirimu di penghujung

malam sudah melepas baju di depan pintu rumahmu 
legam tubuhnya penuh rahasia gugur 
berpamit di musim hujan yang mulai menepi manis terucap di bibir itu 

wajahmu, 
yang berada di penghujung 
adalah purnama untuk hiruk pikuk lolong doa-doa paling serigala 
setidaknya biar satu hari, 
nasib buruk melupakan brengsek tugasnya 
dan jauh mendiami batu 
berhenti memburu tak menyentuh segala kebaikanmu 

berbahagialah dirimu, 
untuk waktu ini yang kembali menjadikanmu ada 
untuk waktu ini yang kembali merawat ketabahan lidahmu 
sebelum bosanmu berhenti membahasakannya 

dan air mata 
sesungguhnya biarkan elok dalam biru 
menjadi laut 
muara teduh langit bercermin mensyukuri seluas itu 



sejenak

ruangan ini
perihal perjalanan menuju lenganmu yang begitu sukar
dan udara dingin semakin lincah mengasah taring 
untuk sejenak menancap lunak daging di gigil jauh pelukan

sementara, 
apa yang ditanam di bibir 
hanyalah menemukan basah hitam pahit secangkir yang menyenangkan 
seperti merenggang sedikit tubuh dari pergumulan yang dipelihara oleh rindu 
demi membiarkannya merambat di sekujur kecupan 
pun bermain hangat yang tumbuh di kecipak itu

duhai, 
kepada sejenak yang melayang-layang di lengang suasana 
sepertinya terlalu banyak sabar kau menebar debar 
terlalu tekun berkali-kali kau menemu resahku yang gemar
hingga terlintas lalu-lalang membungkus kedua mata  
menamakan kedekatan rupa dengan dirimu yang jelas segala 




bilamana kubelajar mendoakan kecantikanmu

bilamana, kumulai ini waktu dengan menurunimu 
barangkali malam luluh merebah lembut memanjang di rambutmu 
merawat cahaya purnama memancar indah wajah pualam itu 

matamu, 
ah, sembunyi sebilah belati haus menikam jantung rupanya 
itu sebabnya kau biarkan kelopakmu terkatup selalu begitu tenang 
tertidur sebelum mawar berhasil merekah di sekujur senyuman 
yang pintar perkara meniru hangat secangkir kopi dalam genggaman 

dirimu, yang dipelihara dalam gambar itu 
berbahagialah untuk mataku 
yang senantiasa mendoakan segala bentuk kecantikanmu 


kitalah pasti pergi

kitalah pasti pergi 
menjadi pulang dalam segala ingatan-ingatan di kepala sendiri  
menjangkit sesak meremas sekujur tabah di dada paling terkoyak 

kitalah pasti pergi 
beranjak dari sepasang mata rembulan jingga yang berlayar tenang di sudut sunyi
yang entah kapan mau selesai melepas batang-batang hujan di wajah telaga 
melukis segala musim dengan pendar lambaian tangan: sampai berjumpa  

de, kitalah pasti pergi 
saling benar meninggalkan dalam sebaik-baiknya kenangan tak sanggup mati
di mana kekurangajaran rindu pastinya kelak mengetuk pintu yang berulangkali  





banjir hujan di ibu kota

ada yang sedang bersenang jatuh di musim ini 
berlebih deras dari tangisan kehilangan ibu 
membuat muntah mulut-mulut kali 
menambah duka menggigil itu 

oh, ibu kota 
meski masam terkadang busuk aroma yang berdiam di ketiakmu 
sungguh betapa mengiurkan lekuk rumit tubuhmu 
hingga tak pernah habis menyeret liur hujan yang semakin banjir diramai televisi itu 
semakin ramah dilumat janji gubernur sekarang pun kemarin dulu 
yang tak pernah selesai, menyelesaikan itu