sajak yang tenggelam

terinspirasi dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

di luar sudah hujan 
mengejutkan sunyi telak ke pangkuan kepala 
pun merantau mereka yang duduk manis di pinggir rembulan 
sembari merayakan leleh cahaya emas merebah di kolam 
menggali pendar bayang remang tertinggal entah ditinggal 
barangkali wajah teduh kekasih adalah pemasung yang pandai sembunyi dari terpelihara itu 

kepada peristiwa yang tak mampu terbunuh 
relakan saja sepasang sepatu pergi ke seberang muka pintu 
biar lidah hujan memelihara basah sekujurnya 
dan engkau semakin belajar pedih mencintai 
di balik jendela, di dalam kamar, di hangat selimut bunga tulip ungu 
yang sepakat barangkali selalu menyusahkan itu 

duhai permataku, 
mencintaimu sungguh tak kau menemu di peluk cium tahun-tahun suamimu 
sebab ia hanya mencuri mesra dariku 
mencuri merah matang ketakutan dari ragam melarat yang begitu kau alamatkan kepadaku 

Hayati, 
hujan ini masih senang berlalu 
kupanjatkan semoga ia bukan berhulu dari matamu 






sepulang melihat poster monica belucci

Ada apa dengan kepalaku? 
Ketika hujan telah mematahkan diri pada sore yang gemetar 
Patuh tercoreng krayon warna abu-abu sepanjang langkah sepatu mengetuk itu 
Hingga dekat belum lagi kudekap 
Engkau adalah api yang membakar barangkali jatuh kata-kata buruk 

Sepertinya, aku mau ingin habis bersamamu saja 

yang selesai diketik pukul dua puluh tiga lewat dua puluh tujuh menit

Ada yang melabuh ke laut 
pernah pintar menyebut kawan 
pun kini belajar tekun melubangi sampan.  

Aku, bulan di tangan-tangan yang melambai itu.
Tertusuk runcing jejarum waktu, 
menyimak kepunahan yang mahir belaka 
menerbangkan perihal kenang mengenang satu persatu 
kepada mereka yang bernasib sial 
seperti pecah pada lagu balonku.  

Kalian barangkali, 
tinggal saja di rabun mata 
sampai kelak kupegang erat sebelum telak hilang itu rupa.