sebentar

Sebentar 
tak 
menjajah 
wajahmu, 
puisi 
ini 
terasa 
pegal 
pegal. 







mendengar payung teduh

Seperti pagi, 
penuh kecup embun di dedaun

Seperti siang,
menggantung awan tipis-tipis

Seperti petang,
tenggelam melajukan matahari di jingga semesta 

Seperti malam, 
tak habis-habis itu gelumat bintang berkilau di sepasang mata perempuan 

Aku menemu mendengar itu di antara lagu paling rembulan
Melenggok di wajah danau begitu tenang
Menyala redupkan bernama kenangan itu 





menonton juventus

Kini giliranku 
Duduk sepenuhnya berhadap hadap dengan wajah kotak berlayar cahaya itu 

Mataku menyala, sulut kobar nyali semakin salut akan gerak militan mereka yang serempak bermotif jaran zebra  
Memompa gairah, riuh tak habis-habis 

Manakala rerumput mengaduh dan gejolak bundar bola semakin bergulir menentukan nasib di ujung sepatu 
Barangkali peluh mereka lupa cara mengasin yang garam 

Sebab pola tiga lima dua sudah jadi begitu godam 
Bagi dinding lawan yang segera gugup gagap sejak lepas itu bunyi peluit pertama dipanjangkan   

Forza bianconeri, forza 
Dari lorong leher aku meniru nyonya tua melulu melantangkan itu