dik

Di malam rambut itu 
Betapa tabah cinta akan memutih di cerlang matamu 
Yang berwajah telaga penuh kecup gerimis yang beribadah

Lantas, biar saja kutekun di bawah rindang kala  
Menunggu hujan ranum puisi yang gemar tergantung 
Pun begitu sibuk merawat perkara indahnya jatuh yang kelak berkali-kali

Dik, akhirnya, jatuh kepada hidupmu  
Barangkali sebut saja aku semakin mahir berkarat saja 







sudah siang

Pagi sudah terlalu matang 
Jika di tengah jendela mengatakan selamat pagi: 
Burung-burung memudar 
Belaka mencari lengan pelukan pohon yang begitu rimbun 
Meninggalkan sarang demi nyanyi yang lebih dikenang 

Lantas dari bantal yang membujur itu 

Basah kita punya mimpi mesti mampus oleh hari yang semakin matahari 
Semacam kecupanmu 
Yang di tengah perjalanannya 
Menemukan kenyal bibir dibukan usiaku 

Barangkali, ini kala bijak kusebut siang saja dan mari memasukan semua cahaya 







cerita sebelum makan

Dari tempat tidur kini engkau menuju lagi pasar 
Diburunya selalu telur senyum itu yang siap ditetas ketika langit selesai berwarna jingga 
Dan itu pintu kembali melapangkan luas pelukan selamat datang 
Kepada aku, lelaki yang pulang dari pergi menjual nasib 

Di mangkuk itu 
Betapa hangat daun-daun jatuh hijau semata 
Belaka mencuri sedikit rasa laut 
Memanen lapar yang sepatutnya belum 

Sementara, selagi sendok dan piring sibuk aku tukar bunyinya 
Mata itu tiba-tiba tumbuh begitu tabah rerimbun pohon 
Yang teduhnya mengubah segala esok atas kemarau 
Yang barangkali cukup untuk aku bernaung pun kesedihan biar menghapus dirinya sendiri