hadiah kecil yang barangkali

Di matamu 


Setidaknya aku ingin memelukmu saja 
Bersama tahun-tahun yang sudah tertidur di dalam laci almari 
Pun yang akan tumbuh meniru musim-musim di mata itu 

Duhai, tekunlah di dalam dekap yang hanya erat barangkali 
Sampai kepada semesta yang tidak menemukan alasan untuk berhenti menghujani 
Mendoakan segala itu, merayakan usia itu 




  



  




    



kepada kesedihan

Terlalu tajam barangkali pisau kau punya dahulu
Belaka memotong senja yang baru separuh
Mengiris sadis nasib anak-anak hujan yang jatuh kala bermain perosotan di dekat kolam mata itu

Menangislah, air mata
Yang lebih deras begitu sungai
Yang mengalir kental menuju laut malam menggigil itu

Kepada kesedihan, ucapkan selamat datang 
Ketika dirimu yang menemukan kepulangannya dan bukalah pintu itu seluas-luasnya 
Hati itu, tanpaku sia-sia kau bilang ternyata 







meraba sepi

Sebentar saja, letakan sepi itu telak bersisian denganku 
Biar segala yang berdegup adalah benar keinginan paling ditanak 
Menginginkanmu, aku ingin semakin hebat 
Terbaca di hari-hari yang belum 
Tergaris di nasib baik yang akan 

Maka deraskan kesedihan sampai ketakutanku memiliki wajah yang menggigil 
Sebab menceritakan lambaian tangan dan punggungmu yang pamit tenggelam kelak 
Air mataku menegaskan ingin belajar tak sanggup asin sendiri