kepada tidurmu

Telah sunyi pun malam semakin luas di tempat tidur 
Domba-domba meloncat dari sorot lampu 
Mencari mata yang sigap menarik busur begitu lapar membidik molek pinggangnya 

Meski tak seindah lekuk sabit 
Boleh jadi kata-kata telah terjun dari jam dinding 
Jatuh semakin meminta di sekujur bibirmu yang belum tuntas kuselami dengan tabah doa-doa seharian 

Sayang, sebelum tidur, biar sejenak kuaminkan namamu 
Lebih dekap, lebih erat 















memetik rindu

Ada kata yang ranum di tangkai bibir itu 
Kupetik sebelum jatuh 
Kita rapuh abadi tak bersentuh 

Kemarilah, biar ketakutan bercermin di genang air mata 
Surut diteguk dada yang sepanjang kau menggigil oleh beku rindu semula aku tiada aku 

Kekasih, hempas jauh musim-musim yang belum menerbangkan kata ombak dan deru 
Maka begitupun ia telanjang membuncah bahagia 
Semisal kita, sejoli yang pulang dari sangkar peluk ciuman terasing 

Malam ini kuingin menyala dalam matamu 




menziarahimu

Pulanglah ke dalam jauh waktu 
Tempat kutemukan hujan bermain di daun-daun dahulu 
Pun riang kecipaknya di belah tawa oleh dingin begitu deras memerangkap usia 

Sejenak, kayu bakar itu biar belaka ditaruh tungku dalam kepala 
Semoga hangatnya memanjat bibir yang curam 
Meminta dengus napasnya kembali teramat dekat di denyut jantung yang semakin mahir menuturkan pengalaman kali pertama: aku jatuh, bangun, berlari mengejar roda-roda sepeda, meninggalkan rumah untuk cinta yang pandai memanjat pohon kelapa ternyata 

Duhai, gerbang surga terdekat, kenangan apalagi tak sehijau rerumput dan membangunkan kerinduan berderak di setapak jalan menuju tempat tidurmu yang hening lapang di sana 

Aku, biarkan nanti larut di puja-puji 
Khidmat membasuh kaki-kaki angin timur mendekati barat laut