selepas sajak ini entah dia datang atau tidak

Ini kamar serasa di relung kulkas tiba-tiba 
Apa-apa ingin menebal peluk 
Menutup desah angin hujan di tenang hangat suhu tubuhmu barangkali perihal paling meringkik di kandang dada 

Kamu mengapa lama benar melumat peta 
Sedang malam rambutku perlahan mati muda 
Tanggal satupersatu di geligi sisir usia-usia dan rencana besar kembali nanar di surat kabar 

Kekasihku, nasib ini mau kamu 
Tak mau tau mesti itu membunuh beribu-ribu kilometer 
Datanglah selicin lincah sayap abrakadabra pun usah pergi dari pagut bibir mata dekap pergumulan yang nanti kumatangkan 







jatuh gila

Ini perihal secangkir kopi yang entah kapan 
Kupesan di kotakata bibirmu 
Kuteguk hangat menyesap gelap kedalaman itu 
Pelan-pelan jauh semakin 
Wajahmu menyala kubawa pulang: manggung di mata 
Memicu gelisah deru detak jantung tembok kamar melupa arah 

Wahai, kusebut pantas apakah perayaan yang bergejolak ini?
Sebelum tidur, sesudah cahaya membelah dirinya kembali 
Aku seperti jauh waras sendiri 
Nun gila sendiri 
Kepadamu yang barangkali 




kukira

Kukira, aku akan tiba 
Entah di kata-kata sebelah mana 
Biasa larut begitu lembut 
Selepas bibirmu tekun bersujud 

Aku, barangkali akan belajar menutup pintu 
Ketika angin berani benar menyisir riap rambut malammu 
Senja menetas di semesta matamu 

Lantas jangan halangi giat pelukan itu sayangku
Biar belaka melingkar diramah pinggulmu 
Menjadi ular, mendesah menjamah tanpa raya tanda tanya 
Merayakan takdir yang sudah susah-susah dipenakan Tuhan 

Kukira, raib sudah itu penasaran