barangkali aku mau patah berkali-kali

Barangkali, terlalu lembut aku menekan mata pena 
Huruf-huruf samar, kata-kata nanar dan puisi jadi begitu kabut 
Merayap mengecup mata bundar rembulan 
Sekarang jatuh di tengah jendela kamar anak perawan paling mawar 
Menjadi embun yang begitu tekun memasung resah wajah 

Dada ini penuh 
Itu rindu semakin bercabang riang 
Yang di tangannya, aku mau patah berkali-kali 



siang mengajariku mengatakan jelas bukan

Sudah siang 
Terik pun lantang 
Bubarkan langit-langit yang pernah romantis 
Peluk cium kita entah tidur di nisan mana? 

Oh perempuan 
Tinggal saja kau di sisa hening hitam rambutku 
Merawat ingatan-ingatan yang semakin muda 
Namun patah belaka di ujung matamu sendiri 

Berdiamlah di daun-daun siap jatuh 
Sungguh yang kau sangkarkan paling jantung 
Telah menjelma lagu-lagu di pasar burung 
Sedikit merdu, banyak begitu gaduh 

Lantas perihal menyelam menantang kedalaman laut masa lalu 
Aku tak ikut, sebab yang pandai berenang 
Jelas itu bukan milik dendam rinduku 
Jelas, bukan  








semalam kita tumbuh di dekap telinga masing-masing

Semalam kita tumbuh di dekap telinga masing-masing 
Dituangnya atas dahaga paling dada 
Rembulan itu menunduk oleh dengus napas yang hilang resah kata 
Barangkali, lidah lelah melarung pun lelap sudah dan rindu semerbak jadi kunang-kunang 
Terbang dalam tempurung kepala penuh kita 

Kekasih, besok kuingin dengar: Kau rindu sekali, aku mau lagi