seruput

Ini hari panjang betul 
Waktu seperti pikun perihal mengangkat kaki 
Duduk ia bersama uban angka-angka dalam kalender dan mulai menyesap segelas kopi yang malas memasang senyum 

"Seruput..."

Sialan, pahit ini mencekik hingga matahari menjerit 








bertemu ibu kata-kata

Malam sudah cukup, aku belum juga seperti dirinya 
Tekun menumpahkan susu dari cangkir buah dadanya dahulu ketika angin lenyap dari ranjang pun rimbun belukar mimpi semakin tendensius menggeletak di sisi puntung-puntung rokok yang habis sarinya dijarah bibir-bibir gosong para nokturnal penguasa gardu

"Tidurlah nak, 
Tinggalkan rembulan dalam bundarnya di luar rumah."

Begitu katanya, sebelum embun paling sabun mengelus-elus punggung daun-daun
Hingga gugur itu cemas yang pekat di ujung malam yang semakin perempuan

Ah, semalam usia ini, gerimis bunga-bunga jatuh kembali
Mengecup hangat kenangan 
Telak sebelum aku mengemas benar tidur 

"Ibu, ajari aku cara memeluk hidup."



perihal hari-hari yang belum dijejak rencana

Di paras cermin 
Alangkah tekun ini wajah merupa-rupa
Perihal hari-hari yang belum dijejak rencana 
Pun doa-doa yang tak sedang ingin menyerah
Mendudukan cangkir demi cangkir saling berseberangan
Di meja cokelat yang melelehkan raya matahari 
Hingga langit belaka mengaku cantik
Paling jingga, paling engkau sepertinya

Lalu kepada jurang matanya
Kubiarkan saja kata-kata merapuhkan sayap-sayapnya sendiri 
Jatuh penuh lembut dari pada getar nadi 
Sampai tengah palung dadanya terengkuh tebal rindu yang aku 

Wahai, kekasih yang belum 
Akulah kenangan itu 
Kenangan yang madu, paling engkau dan Tuhan akan abadikan 

Berbahagialah...
Atas bahagiaku yang telah dinisankan cermin sekarang