selepas usia mendekap larut

Ini waktu belaka kupulang, Sayang 
Selepas usia mendekap larut dan basi angka-angka dalam almanak 
Terecap mengaku semakin kecut 

Aku, entahlah, senasib makhluk merasa hebat kebanyakan 
Lusuh pulang menemu sejatinya pelukan 
Ketika semesta akhirnya mengaku hanya sebatas nisan-nisan kesedihan 
Pun kecupan mangkir mendarat menyelematkan 

Oh, Sayang 
Tenggelamkan aku 
Hilang menuju kesunyian yang lembut dan sejenisnya 
Hingga sampai di cinta yang Kau semata  




puisi kembang api

Aku, sebut saja peracik gembira yang mendebarkan
Yang tekun menjadi ibu bagi lengkung bulan sabit bibir-bibir yang kau peluk dahulu atas nama kesedihan yang ramah
 

Hidup dari sejenak 
Mungkin surga sederhana untuk sepenggal perjalanan
Di mana angka-angka pada almanak akan tanggal satu persatu di lantai 

Mengenaskan dalam kenangan tanpa nisan
 

Oh kekasih yang masih bernama malam
Adakah cinta yang melebihiku?
Mengecup bahagia luas keningmu 

Mempuisikan cahaya-cahaya 

Adakah?




sekedar gema

Suara-suaraku seakan bertandang jauh ke rumah tak berpenghuni
Dijamu dinding-dinding, gantikan kekasih suatu hari p
un piawai akan ilmu tiru-meniru suara-suara 

"Kali ini, tinggalkan lantang nun di teras rumah!" 

Imbuh telingaku sebelum belaka merah murka oleh apa-apa yang selesai kumulutkan 


Dia pergi, benar sudah dampingi
Namun lupa mengemas telinga 

Kita, boleh jadi saling benar dalam diam paling jurang sepertinya