perihal hari-hari yang belum dijejak rencana

Di paras cermin 
Alangkah tekun ini wajah merupa-rupa
Perihal hari-hari yang belum dijejak rencana 
Pun doa-doa yang tak sedang ingin menyerah
Mendudukan cangkir demi cangkir saling berseberangan
Di meja cokelat yang melelehkan raya matahari 
Hingga langit belaka mengaku cantik
Paling jingga, paling engkau sepertinya

Lalu kepada jurang matanya
Kubiarkan saja kata-kata merapuhkan sayap-sayapnya sendiri 
Jatuh penuh lembut dari pada getar nadi 
Sampai tengah palung dadanya terengkuh tebal rindu yang aku 

Wahai, kekasih yang belum 
Akulah kenangan itu 
Kenangan yang madu, paling engkau dan Tuhan akan abadikan 

Berbahagialah...
Atas bahagiaku yang telah dinisankan cermin sekarang  



3 komentar:

Fandhy Bonthaink mengatakan...

KEREN.....

Balas kunjungan : http://f4ndhy.blogspot.com/2013/02/bukan-karena-kami-rakus.html

tjuandha mengatakan...

sajak yang asyik, saya saat menikmati ini sedang riang dan berubah kelabu.

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Fandhy Bonthank : terima kasih :-D, iya nanti akan balas berkunjung saya.

@ Tjuandha : waduh, bisa langsung kelabu begitu :-D