selepas usia mendekap larut

Ini waktu belaka kupulang, Sayang 
Selepas usia mendekap larut dan basi angka-angka dalam almanak 
Terecap mengaku semakin kecut 

Aku, entahlah, senasib makhluk merasa hebat kebanyakan 
Lusuh pulang menemu sejatinya pelukan 
Ketika semesta akhirnya mengaku hanya sebatas nisan-nisan kesedihan 
Pun kecupan mangkir mendarat menyelematkan 

Oh, Sayang 
Tenggelamkan aku 
Hilang menuju kesunyian yang lembut dan sejenisnya 
Hingga sampai di cinta yang Kau semata  




11 komentar:

ghost writer mengatakan...

membacanya sambil mendengar lagu begitu enak, bro.

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ ghost writer : kalau begitu, lakukanlah bro :-D

Ibrahim Sukman mengatakan...

ah, terasa di awang2 membacanya...

Muhamad Firmansyah mengatakan...

Ah..
terlalu sempurna sore ini.
Ada kopi, puisi, lagu, langit yang jingga.
Tapi ada yang kurang, dekapan hangat kekasih.
Yang masih jadi rahasia Tuhan.

Riesna Kurnia mengatakan...

aku selalu bingung mau komentar apa di sini. peluk aja, boleh? :*

Zoel's mengatakan...

Membaca puisi lw sambil nonton bola sungguh terasa aneh cuy..

sonyawinanda mengatakan...

hey mrpuitis! it's just awesome! kapan ya bisa bikin puisi keren kayak gini jugak?

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Ibrahim Sukman : hati-hati jangan lupa kepakan sayap mas bro :-D

@ Muhammad Firmansyah : klo gitu carilah bro :-D

@ Na : boleh banget :-*

@ Zoel's : hahaha...emng aneh banget zoel :-P

@ Sonyawinanda : hahaha...puisi kamu bukannya lebih keren dari puisi saya yh ?. :-D

airimaruru mengatakan...

uhhuuuuwww keren2 yak puisinya, sampe bingung mau komentarinnya...
^o^

Yulia Rahmawati mengatakan...

cool poetry, do you draw the picture?



Cheers,

Yulia Rahmawati

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Airimaruru : haduh trm kasih, btw tulisan kamu jg keren2, bikin saya binggung mau komentar apa :-D

@ Yulia Rahmawati : terima kasih, hmmm itu bukan gambar saya, tepatnya boleh ambil dari google. :-D