puisi kembang api

Aku, sebut saja peracik gembira yang mendebarkan
Yang tekun menjadi ibu bagi lengkung bulan sabit bibir-bibir yang kau peluk dahulu atas nama kesedihan yang ramah
 

Hidup dari sejenak 
Mungkin surga sederhana untuk sepenggal perjalanan
Di mana angka-angka pada almanak akan tanggal satu persatu di lantai 

Mengenaskan dalam kenangan tanpa nisan
 

Oh kekasih yang masih bernama malam
Adakah cinta yang melebihiku?
Mengecup bahagia luas keningmu 

Mempuisikan cahaya-cahaya 

Adakah?




12 komentar:

IrmaSenja mengatakan...

Mungkin pada ketulusan pemilik hatimu disana, pesona kembang api terkalahkan percikannya :)

nice poem pak ^^

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Irma Senja : hehehe...pastinya itu :-D

cerita bintang mengatakan...

manis sekali... teruslah berpuisi! :D

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ cerita bintang : terima kasih atas kunjungan serta apresiasinya. :-D

ghost writer mengatakan...

ah, adakah? ia pertanyaan yang meluas dengan jawaban yang mengecil. pasti!

Ibrahim Sukman mengatakan...

semoga masih tersisa malam. Tentu dengan tidak dengan senyum yang gelisah..salam:) I love your words so much...

вʋввℓɛ ρσρƨ mengatakan...

bagus la kamu punya puisi ;) suka bangat ~

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Ibrahim Sukman : semoga saja begitu mas, btw trm ksh utk kunjungan dan aspresiasinya. :-D

@ Bubble Pops : terima kasih yh :-D

Zoel's mengatakan...

uuuh...cocweeet anak terbatas

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ zoel's : hehe...trm ksh bang izoel

JK mengatakan...

puisinya indah sekali

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ JK : terima kasih :-D