belum terpikir judul

Langit perlahan melebam
Di wajahnya, laut bercermin bertukar murung
Memulangkan riuh 
Memulakan sunyi
Menyulam rapat-rapat itu rongga cahaya 
Menghukum segala apapun menunjuk dada

Oalah, semestaku
Mendadak semburat akan wajah-wajah menggigil kini kutipu lagi sendiri 
Dan sesak yang ditetapkan pasrah sudah digoda jarak yang terkutuk

Sayangku, menujumu semoga aku tak pernah kalah





mengecup nyeri tema paling pagi

Kepadanya, tumpah sudah sajakku 
Kali ini pun begitu 
Jangan ditanya telah keberapa 
Tebang saja itu pohon jati dahulu 
Jawabnya tertera di lingkaran tahun tubuhnya 

Dan semisal sekarang 
Selepas langit diperas keras 
Dadaku dihimpit kaki-kaki hujan 
Aku pulang, mengecup nyeri tema yang paling pagi 

Rindu 

Rindu  

Oh, sajakku melulu merayakan itu 



cinta dan lelakimu

Masih membicarakan perkara sesak 
Corong biduan negeri kanguru itu kian meruncing 
Mematuk-matuk tengah dada, melubang di tempat yang itu-itu saja, hatimu 

Pilu, ngilu 

Belaka dua kata disungkurkan berulang-ulang 
Gaungkan sekelumit kisah dua sejoli yang sedang dipentaskan kala

Di cangkir ini, akhirnya kuputuskan langit malam terendam kembali 
Sebab katanya, sungai-sungai di ujung mata belum tersentuh kemarau 
Masih menjadi bah menenggelamkan segala 

Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga tersebut entah 

Dan semacam mencari ketiak ular 
Menurutku, cinta dan lelakimu tak terlukis dalam puisi lengkung pelangi manapun 
Pada wajahmu, pada hidupmu