demikian jumpa itu kubahasakan

Teruntuk jauhku yang enggan selain kamu.

Di suatu hari, kelak kupaham juga mana itu pohon srikaya yang mungkin elok semakin jadi, ketika beradu pandang membanding pohon mangga golek di muka rumahmu. Dahulu pernah dikicaukan kala malam jauh terbilang renta, pun akhirnya memecah tawa kita semakin raya.

Aku menjamin, mungkin lapar ketika itu akan buas. Menagih olahan tepung terigu yang terselimuti kuah kaldu ayam 90 derajat celcius adalah pasti adanya. Atau bila tak sempat, setidaknya kamu daratkan saja nanti beberapa itu potong brownies belaka, dilanjut secangkir kopi arabica dari rahim hijau di Kalibendo. Biar, biar mereka mengepung lapar tepatnya. Mengubahnya berakhir jinak, serupa om belang yang biasa menggelung di kaki Kemala.

Di langit, pastinya ketika itu awan akan beringsut satu-satu. Membias percuma, lelah dijadikan bahan perbincangan sekali-sekali. Hingga tumpah itu jus jeruk di telak muka langit Kalipuro, kita pun masih sibuk mendudukan wajah masing-masing di peluk mata bertelaga haru. Jingga meraja, melebur kita dalam lena asmaraloka.

Oh...jauhku, benar kini jauhku. Meski tanpa pendar lidah cahaya lilin dan aroma sebatang kara mawar nan menggelayut. Demikian jumpa itu kubahasakan. Kelak.